Pacitan (beritajatim.com) – Kabupaten Pacitan selama ini identik dengan deretan pantai dan goa-goa karst yang eksotis. Namun, di balik riuh ombak dan tebing kapurnya, terselip sebuah oase hijau yang tumbuh perlahan di muara Sungai Grindulu. Namanya Watu Mejo Mangrove Park, destinasi ekowisata yang masih terjaga kealamiannya.
Terletak di Dusun Kiteran, Desa Kembang, Kabupaten Pacitan, Watu Mejo Mangrove Park hanya berjarak sekitar 12 menit dari pusat kota. Begitu memasuki kawasan ini, suasana terasa berubah drastis. Hembusan angin laut berpadu dengan aroma khas mangrove menghadirkan ketenangan yang jarang ditemukan di tengah hiruk pikuk perkotaan.
Jogging track kayu membelah rimbunnya hutan mangrove, mengajak pengunjung berjalan santai menyusuri kawasan konservasi. Di atas jalur inilah Betty Suryaningsih tampak menemani anaknya menikmati suasana, sesekali berhenti untuk mengabadikan momen.
“Sejuk, tenang, dan enak buat foto-foto. Anak-anak juga senang karena bisa belajar langsung tentang mangrove,” ujarnya, ditulis Senin (5/1/2026).
Keunikan Watu Mejo Mangrove Park terletak pada lokasinya yang berada di pertemuan hilir Sungai Grindulu dengan air asin Pantai Pancer Door. Perpaduan air tawar dan air laut menjadikan kawasan ini habitat ideal bagi mangrove untuk tumbuh subur. Tak hanya sebagai objek wisata, kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi pembibitan dan penanaman mangrove.
Keindahan yang kini dinikmati pengunjung tidak hadir secara instan. Kelompok Masyarakat Jangkar Segoro Kidul bersama warga setempat membangun kawasan ini secara bertahap. Jembatan bambu sederhana yang dulu menjadi akses utama kini telah berganti dengan jogging track kayu yang lebih kokoh, aman, dan ramah bagi wisatawan.
Pengelola Wisata Konservasi Mangrove Park, Slamet Riyadi, menjelaskan bahwa pengembangan Watu Mejo merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Sejumlah lembaga turut terlibat, mulai dari Rumah Zakat, Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berkontribusi dalam perancangan kawasan, hingga masyarakat lokal sebagai penggerak utama.
“Ini bukan hanya soal wisata, tapi juga edukasi dan konservasi. Mangrove kami rawat bersama,” kata Slamet Riyadi.
Momentum libur sekolah Natal dan Tahun Baru menjadi berkah tersendiri bagi kawasan ini. Ribuan wisatawan datang silih berganti, menikmati suasana hijau sambil mengenal fungsi mangrove sebagai pelindung pesisir. Tidak sedikit pula pengunjung yang terlibat langsung dalam kegiatan penanaman mangrove.
“Tak hanya berwisata mereka ada juga yang ikut menanam mangrove,“ pungkas Slamet. [tri/beq]






