Bondowoso, (beritajatim.com) – Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Bondowoso menerapkan pengelolaan dan pemilahan sampah di tujuh destinasi wisata yang berada di bawah kewenangannya. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Kabid Pariwisata Disparbudpora Bondowoso, Yuni Dwi Handayani, mengatakan bahwa persoalan sampah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas pariwisata. Menurutnya, setiap destinasi wisata pasti menghasilkan sampah seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Kami sudah menerapkan edukasi kepada para pengelola bahwa sampah menjadi topik atau bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan pariwisata,” ujar Yuni, Minggu, 4 Januari 2025.
Ia menjelaskan, di destinasi wisata yang dikelola Disparbudpora, pihaknya telah berupaya melakukan pemilahan sampah, khususnya sampah plastik. Hal ini dilakukan karena aktivitas pengunjung yang datang, makan, dan berwisata tidak dapat dipungkiri selalu meninggalkan sampah.
“Kami mengimbau pengunjung untuk membuang sampah di tempatnya. Namun kembali lagi ke mindset pribadi. Semasif apa pun edukasi yang dilakukan, kalau pengunjungnya cuek, ya ujung-ujungnya tetap meninggalkan sampah,” katanya.
Yuni mencontohkan, dalam berbagai kegiatan atau event di ruang publik seperti alun-alun, persoalan sampah kerap muncul setelah acara selesai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa edukasi masih perlu terus diperkuat dan didukung kesadaran pengunjung.
Meski demikian, Yuni menyebut pengelolaan sampah pengunjung di tujuh destinasi wisata yang dikelola Disparbudpora relatif dapat tertangani dengan baik. Tujuh destinasi tersebut meliputi Arak-arak, Air Panas Blawan, Kawah Wurung, Tancak Kembar, Black Lava Plalangan, Batu So’on, dan Megasari. “Alhamdulillah, dari tujuh destinasi ini pengelolaan sampah pengunjung bisa tertangani,” ujarnya.
Dalam pengelolaan sampah plastik, Disparbudpora menjalankan program Jumat Resik dengan menggandeng pengepul dari Banyuwangi. Sampah plastik yang telah dipilah kemudian dijual melalui kerja sama dengan pihak pemilah sampah.
Selain itu, Disparbudpora juga bekerja sama dengan komunitas Sarkaspace dalam memberikan edukasi pengelolaan sampah, termasuk pendampingan bagi desa wisata. Adapun proses pemilahan sampah dilakukan langsung oleh para pengelola di masing-masing destinasi wisata. “Pemilahannya dilakukan oleh teman-teman pengelola di tiap destinasi,” pungkas Yuni.
Melalui upaya tersebut, Disparbudpora Bondowoso berharap kesadaran pengunjung terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat dan destinasi wisata di Bondowoso dapat terus terjaga keberlanjutannya. [awi/aje]






