Bojonegoro (beritajatim.com) – Di balik rimbunnya pohon asem dan bidara cina di Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, tersimpan jejak sejarah penting. Kawasan yang oleh warga dikenal sebagai Situs Pamintihan ini menyimpan artefak kuno berupa Lumpang Kenteng yang terbuat dari batuan andesit (kalkasit) khas Pegunungan Kendeng.
Secara etimologis, asal-usul nama Desa Mlinjeng dipercaya warga setempat berkaitan dengan daun melinjo muda. Versi lain menyebutkan, dalam bahasa Jawa Kuno, kata “Mlinjeng” berasal dari kata “Linjeng” yang berarti kumpul atau bertemu, kemudian mendapat awalan “m-” sebagai pembentuk kata kerja (Mardiwarsito, 1992: 88).
Makna tersebut mengarah pada tafsir bahwa Mlinjeng berarti tempat berkumpul atau tempat pertemuan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa wilayah desa pada masa lampau berfungsi sebagai lokasi pertemuan masyarakat atau kelompok tertentu dengan peran sosial maupun spiritual.
Seorang warga setempat, Siswo, menuturkan bahwa sejak dahulu pusat aktivitas spiritual masyarakat berada di sekitar Sendang Krapyak, yang kini masuk wilayah RT 05 dan RT 06 Desa Mlinjeng. Di lokasi tersebut, warga secara turun-temurun menggelar ritual sedekah bumi setiap bulan Selo, tepat pada pasaran Pon.
“Tradisinya unik, ada ritual ‘empyak koin’, di mana warga berebut koin yang disebarkan sebagai simbol syukur,” kenang Siswo, Sabtu (3/1/2025).
Namun, lanskap sejarah di kawasan tersebut telah mengalami perubahan signifikan. Siswo menyebutkan, dahulu terdapat pohon kepoh raksasa dan sebuah sendang (mata air) yang menjadi pusat kawasan Situs Pamintihan. Pohon tersebut roboh dan sendangnya ditimbun sekitar awal tahun 2000-an. Kini, penanda lokasi hanya tersisa berupa tumbuhnya pohon bidara cina dan pohon asem yang berdiri di atas lahan yang diyakini sebagai pusat situs.
Temuan di Mlinjeng tidak berhenti pada cerita lisan. Tim Pendata Objek Cagar Budaya Jawa Timur, melalui Achmad Satria Utama, mengungkapkan adanya bukti fisik yang mengarah pada peninggalan era Majapahit abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.
Di sekitar lokasi, tim menemukan banyak struktur batu bata kuno berukuran besar, khas bangunan era kerajaan, dengan lebar sekitar 15 sentimeter dan tebal 6 sentimeter. Struktur tersebut ditemukan tertanam di kedalaman satu meter saat warga melakukan pembangunan pagar di area situs. Namun, sebagian batu bata itu kini telah digunakan warga untuk kebutuhan pembangunan rumah.
“Bukan hanya batu bata, ditemukan juga sebuah cepuk dari gerabah bergangsir warna coklat dengan diameter 16 cm. Wadah yang diduga berfungsi untuk menyimpan serbuk atau ramuan ini sekarang diamankan di rumah warga bernama Pak Sumadi,” jelas Achmad.
Artefak paling ikonik di Situs Pamintihan adalah Lumpang Kenteng, yang tidak dibuat dari batuan biasa. Lumpang ini terbuat dari batuan alkasit atau andesit endemik Pegunungan Kendeng, Bojonegoro. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki kemampuan memanfaatkan material lokal untuk kebutuhan domestik maupun ritual.
Berdasarkan referensi sejarah Jawa Timur, istilah “Pamintihan” kerap dikaitkan dengan struktur pemukiman atau kawasan suci kuno. Dalam sejumlah literatur arkeologi, wilayah **Bojonegoro—dahulu dikenal sebagai bagian dari Jipang—**memiliki peran strategis pada masa Majapahit sebagai daerah penyangga logistik serta jalur transportasi sungai melalui Bengawan Solo.
Situs Pamintihan di Mlinjeng diduga merupakan kawasan permukiman bangsawan atau tokoh agama. Dugaan ini diperkuat dengan keberadaan vegetasi seperti pohon bidara cina, yang dalam tradisi kuno sering ditanam di lokasi-lokasi yang dianggap sakral atau memiliki nilai spiritual tertentu.
Saat ini, warga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk melakukan pendataan dan ekskavasi lanjutan. Pemerintah Desa Mlinjeng juga merencanakan pembangunan museum mini desa sebagai tempat penyimpanan artefak bersejarah sekaligus sarana edukasi dan pengembangan wisata berbasis sejarah lokal. [lus/beq]






