Probolinggo (beritajatim.com) – Kota Probolinggo kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pintu masuk pariwisata internasional di Jawa Timur. Kapal pesiar mewah Westerdam bersandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Jumat (26/12/2025) pagi, membawa ribuan wisatawan mancanegara (wisman) dari lebih dari 50 negara.
Kedatangan kapal pesiar milik Holland America Line yang berbendera Belanda tersebut menjadi bukti bahwa daya tarik wisata Kota Probolinggo masih kompetitif di mata dunia, khususnya sebagai gerbang menuju kawasan strategis wisata Gunung Bromo sekaligus destinasi city tour berbasis budaya dan sejarah.
Momen sandarnya Westerdam disambut langsung oleh Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin. Penyambutan berlangsung meriah dengan suguhan tarian tradisional Probolinggo Ning Ati yang diiringi musik Kelabang Songo Jagadsari, sebagai representasi identitas budaya lokal.
Usai kapal berlabuh, para wisatawan mancanegara langsung diarahkan sesuai agenda wisata masing-masing. Sebagian besar wisman memilih melanjutkan perjalanan menuju kawasan Gunung Bromo, destinasi unggulan kelas dunia. Sementara ribuan lainnya mengikuti agenda city tour untuk mengeksplorasi potensi wisata budaya, religi, dan ekonomi kreatif di Kota Probolinggo.
Di sela kegiatan penyambutan, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan sambutan hangat sekaligus apresiasi atas kepercayaan wisatawan mancanegara yang kembali memilih Kota Probolinggo sebagai tujuan singgah.
“Wonderful. Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Kota Probolinggo selalu terbuka dan siap menyambut wisatawan mancanegara dengan keramahan serta kekayaan budaya yang kami miliki,” ujar dr. Aminuddin.
Menurutnya, kunjungan kapal pesiar internasional tidak hanya berdampak pada citra pariwisata daerah, tetapi juga memberikan efek berantai terhadap sektor ekonomi lokal, mulai dari transportasi, UMKM, hingga pelaku seni dan budaya.
Rangkaian city tour dimulai dengan kunjungan ke Rumah Sentra Batik, tempat para wisman diperkenalkan dengan proses pembuatan batik khas Probolinggo sekaligus berinteraksi langsung dengan perajin lokal. Dari lokasi ini, wisatawan tampak antusias mengamati motif dan membeli produk batik sebagai cendera mata.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum Probolinggo untuk menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional sekaligus mengenal sejarah dan perjalanan Kota Probolinggo dari masa ke masa. Pertunjukan tersebut menjadi sarana diplomasi budaya yang efektif dalam memperkenalkan kearifan lokal kepada dunia internasional.
Perjalanan city tour berlanjut ke Gereja Merah, salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial, sebelum rombongan melintasi Alun-alun Kota Probolinggo sambil menyaksikan Masjid Agung Raudlatul Jannah sebagai simbol toleransi dan keberagaman.
Rombongan juga singgah di Kelenteng Sumber Naga, ikon wisata religi yang mencerminkan harmonisasi budaya di Kota Probolinggo. Di lokasi ini, wisatawan tampak mengabadikan momen dan berinteraksi dengan pemandu wisata yang menjelaskan sejarah serta nilai keberagaman yang hidup di tengah masyarakat.
Usai mengunjungi kelenteng, para wisman diarahkan ke pasar tradisional untuk berbelanja berbagai produk lokal, mulai dari kerajinan tangan, makanan khas, hingga oleh-oleh UMKM. Kehadiran ribuan wisatawan ini memberi dampak langsung terhadap perputaran ekonomi warga sekitar.
Setelah rangkaian city tour selesai, rombongan kembali ke Pelabuhan Tanjung Tembaga. Selanjutnya, kapal pesiar Westerdam melanjutkan pelayaran menuju Pulau Bali, destinasi berikutnya dalam rute wisata internasionalnya.
Kunjungan kapal pesiar ini dinilai sebagai momentum penting bagi Kota Probolinggo untuk terus memperkuat posisi sebagai kota singgah wisata internasional, sekaligus mendorong pengembangan infrastruktur pariwisata, pelayanan publik, dan promosi destinasi lokal secara berkelanjutan. (ada/but)






