Surabaya (beritajatim.com) – Suasana Natal di Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Jalan Kepanjen, Surabaya, terasa berbeda tahun ini.
Di halaman gereja, sebuah pohon Natal setinggi 12 meter berdiri megah, bukan dari daun cemara atau ornamen mahal, melainkan dari ratusan galon dan botol plastik bekas.
Pohon Natal transparan dengan diameter sekitar tiga meter itu langsung mencuri perhatian umat dan warga yang melintas. Susunan galon membentuk siluet kerucut yang menjulang, sementara di bagian bawahnya tertata kotak kado warna-warni.
Pada setiap sisi pohon, terlihat kertas kecil berisi doa dan harapan yang ditulis tangan oleh anak-anak hingga orang dewasa.
Pengurus Sekretariat Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Veronica Diy, menuturkan bahwa pohon tersebut awalnya dirancang lebih tinggi. Namun, setelah melalui pertimbangan teknis dan estetika, panitia sepakat menetapkan tinggi 12 meter.
“Proses pembuatannya dimulai sejak sepekan lalu menggunakan lebih dari 100 galon dan ratusan botol plastik berbagai ukuran,” ujar Veronica, Selasa (23/12/2025).
Keindahan pohon Natal ini semakin terasa saat malam tiba. Lampu-lampu biru yang dipasang di sela-sela galon membuat pohon tampak bercahaya, menghadirkan nuansa teduh sekaligus elegan di tengah hiruk pikuk kota Surabaya.
Namun di balik tampilannya yang unik, pohon Natal ini membawa pesan yang jauh lebih dalam. Veronica menjelaskan, penggunaan bahan dari sampah plastik bukan sekadar pilihan estetika, melainkan wujud nyata kepedulian gereja terhadap lingkungan.
“Setelah ini memang kami ingin sumbangkan ke pemulung. Kami ingin membuat supaya ini lebih bermanfaat dan mengurangi sampah plastik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ide tersebut berawal dari obrolan santai panitia Natal yang kemudian mendapat dukungan penuh dari Romo Paroki. Sejak itu, umat diajak mengumpulkan galon dan botol plastik bekas untuk dijadikan ornamen utama pohon Natal.
Selain sebagai simbol kepedulian lingkungan, pohon ini juga menjadi ruang partisipasi umat. Setiap orang bebas menempelkan doa dan harapan mereka di bagian pohon, dari bawah hingga ke titik tertinggi yang mampu mereka jangkau.
“Jadi bagi kami, Natal itu bukan hura-hura. Bukan istilahnya pesta pora,” tutur Veronica.
Menurutnya, pemaknaan Natal justru terletak pada kesederhanaan dan refleksi spiritual. Pemilihan material dari sampah plastik menjadi simbol bahwa kelahiran Yesus dapat dirayakan secara sederhana namun penuh makna.
“Kita ingin seluruh umat, terutama umat Kristiani, betul-betul memaknai Natal itu sebagai sesuatu yang sederhana tapi bermakna,” pungkasnya.(rma/ted)






