Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan Jawa Timur (Dindik Jatim) mendorong Pokja Pendidikan Inklusif membentuk Rumah Solusi untuk memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Kebijakan ini ditujukan sebagai cara memetakan minat, bakat, dan kompetensi siswa agar pendidikan inklusif lebih tepat sasaran.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai mengatakan, pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab Sekolah Luar Biasa (SLB), tetapi seluruh satuan pendidikan.
“Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga pengembangan kompetensi,” ujar Aries saat pengukuhan Pokja Pendidikan Inklusif masa bakti 2025–2028 dan pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Pendidikan Khusus Jatim, Kamis (18/12/2025).
Aries menjelaskan, Rumah Solusi akan menjembatani perbedaan kompetensi antar-SLB dan kebutuhan siswa yang beragam. “Melalui Rumah Solusi, kebutuhan ini bisa dipetakan dan disinergikan dengan sekolah yang tepat,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta kepala sekolah melakukan perubahan untuk menghadapi tantangan di masa mendatang. “Kalau di 2025 tidak melakukan perubahan, otomatis di 2026 kita tidak akan bisa bersaing,” ujarnya.
Di sisi lain, Dindik Jatim berkomitmen untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung agar ekosistem pendidikan inklusif di Jatim semakin kuat dan berkelanjutan.
Dindik Jatim juga akan menjalankan inkubator bisnis inklusi. Program ini untuk mengembangkan potensi, bakat, dan minat ABK agar memiliki kompetensi yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. [ipl/kun]






