Madiun (beritajatim.com) – Aroma menyengat yang muncul dari aliran air menuju lahan pertanian di Dukuh Karanganyar, Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, membuat para petani gelisah.
Air yang sebelumnya jernih kini berubah keruh, menyisakan endapan dan bau kuat yang diduga berasal dari limbah dapur pengolahan Menu Bergizi Gratis (MBG).
Putut Wagimitoyo, petani pemilik lahan, menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia mengaku kondisi sawahnya berubah drastis sejak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut beroperasi dan menyuplai ribuan porsi makanan setiap hari.
“Dulu air dari kolam ikan warga masuk ke sawah tidak masalah. Tapi sekarang limbahnya beda, baunya tajam. Kalau dibiarkan, tanah bisa rusak dan tidak bisa diolah lagi,” ujar Putut. Ia menyebut limbah itu berasal dari sisa cucian peralatan masak, mengandung sabun, minyak, dan bahan lain yang meninggalkan endapan tebal di lahan.
Bukan hanya mengganggu kualitas tanah, Putut menyebut beberapa petani merasakan gatal-gatal saat bekerja di sawah. Ironisnya, ia mengaku tidak pernah mendapatkan pemberitahuan ataupun klarifikasi dari pengelola SPPG maupun pemerintah desa mengenai aliran limbah tersebut.
Menurutnya, limbah tidak diarahkan ke saluran irigasi resmi, melainkan dibuang melalui tanah resapan dan akhirnya merembes ke lahan pertanian warga. “Tidak ada penjelasan apa pun dari pengelola. Tahu-tahu airnya berubah dan masuk ke sawah,” tegasnya.
Slamet, owner SPPG, memberikan jawaban berbeda. Ia mengatakan limbah dapur tidak dibuang langsung ke sawah seperti yang dikeluhkan warga. Menurutnya, pembuangan dilakukan melalui sistem resapan dan sebagian dialirkan ke parit di sisi barat tempat produksi.
“Limbah itu masuk ke resapan. Kalau sampai ke sawah, mungkin ada faktor lain. Parit barat memang ada, tapi yang di luar itu saya kurang tahu,” kata Slamet. Namun, ketika dimintai kepastian apakah paralon pembuangan mengarah ke lahan warga, ia tidak memberikan jawaban tegas. “Saya tidak berani memastikan. Yang saya tahu, itu ke parit.”
Meski begitu, ia mengaku bersedia mengikuti arahan jika memang ada saluran yang perlu ditata ulang. “Kalau harus diarahkan ke saluran lain atau diperbaiki, saya siap menyesuaikan sesuai aturan.”
Di tengah produksi sekitar 2.800 porsi makanan bergizi setiap hari oleh SPPG, para petani kini berharap ada langkah cepat dari pengelola maupun pemerintah desa. Bagi mereka, bau menyengat dan endapan limbah yang terus meningkat bukan sekadar gangguan tapi ancaman nyata terhadap tanah yang menjadi sumber hidup keluarga mereka. (rbr/ted)






