Blitar (beritajatim.com) – Aroma hio yang khas kembali menyeruak di Jalan Merdeka Barat, Kamis (4/12/2025). Bukan aroma kesedihan seperti saat api melalap habis bangunan bersejarah ini pada November 2021 silam, melainkan aroma harapan dan kepulangan.
Setelah 3 tahun menumpang dalam di sebuah ruko di Jalan Mawar, Klenteng Poo An Kiong akhirnya kembali bernapas. Klenteng tertua Blitar ini telah bangkit dari puing-puing, berdiri lebih megah, siap kembali menjadi rumah bagi umat Konghucu dan para Dewa.
Pagi itu terasa sakral. Sebelum matahari meninggi, kesibukan sudah terlihat di ruko sementara di Jalan Mawar. Ini bukan sekadar pindahan barang, melainkan perpindahan energi spiritual.

Ketua I Yayasan Klenteng Poo An Kiong, Than Swan Kiang,, memimpin prosesi ini dengan khidmat. Ada 18 patung Dewa utama yang harus dipulangkan ke “takhta” aslinya. Namun, ada yang berbeda dari wajah-wajah para Dewa tersebut.
Mayoritas adalah patung baru. Api tiga tahun lalu terlalu ganas, menghancurkan fisik patung-patung tua yang telah ratusan tahun menjaga kota. Namun, bagi umat, fisik boleh hancur, tapi roh atau energi suci tidak pernah hilang.
“Nanti patung yang baru akan diselaraskan. Jadi energi patung yang lama diambil, diselaraskan, lalu dimasukkan ke patung yang baru,” ujar Than dengan nada tenang pada Kamis (4/12/2025).
Sementara patung-patung fisik yang lama menjadi saksi bisu sejarah dan tragedi yang tidak dibuang. Mereka akan diistirahatkan dengan hormat, dimuseumkan sebagai bagian dari memori kolektif Klenteng Poo An Kiong.
Wajah Baru Tiga Lantai
Klenteng Poo An Kiong yang berdiri hari ini adalah simbol resiliensi. Bangunan yang usianya menembus 136 tahun itu sempat rata dengan tanah setelah pembongkaran total pada 2022 akibat struktur yang rusak parah terbakar.
Dimulai sejak Agustus 2022, pembangunan memakan waktu tiga tahun penuh. Kini, Poo An Kiong tidak lagi sekadar bangunan tua satu lantai. Ia bertransformasi menjadi gedung tiga lantai yang modern namun tetap memegang teguh arsitektur tradisi.
“Ada basement di lantai dasar, aula serbaguna di lantai dua, dan pusat peribadatan yang hening dan agung di lantai tiga,” jelas Than.
Menyalakan Kembali Harapan
Bagi warga Blitar, Klenteng Poo An Kiong lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah penanda keberagaman dan sejarah kota. Kembalinya aktivitas ke Jalan Merdeka Barat menandakan satu babak kelam telah resmi ditutup.
Prosesi hari Kamis itu menjadi penanda. Bahwa setelah ini, lonceng dan doa akan kembali bergema dari gedung aslinya.
“Setelah ini, Klenteng Poo An Kiong sudah difungsikan lagi untuk ibadah,” pungkasnya.
Sang Dewa telah pulang. Pelita di Poo An Kiong telah menyala kembali, membawa terang bagi umat dan Kota Blitar, setelah tiga tahun menanti dalam sabar. (owi/but)






