Jember (beritajatim.com) – Aktivitas penerbangan komersial di Kabupaten Jember, Jawa Timur, membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk menyewakan Stadion Jember Sport Garden kepada klub sepak bola profesional yang berlaga di Super League (dulu bernama Liga 1) dan Liga 2.
Ide untuk menyewakan Stadion JSG ini disampaikan Wahyu Prayudi Nugroho, anggota Komisi B DPRD Jember. “Ada informasi sebagian klub sepak bola dari luar Jawa ingin punya home di Jawa. Misalnya JSG ini bisa dikerjasamakan atau dikontrakkan, mungkin bisa membantu biaya perawatannya,” katanya, ditulis Rabu (3/12/2025).
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jember Edi Budi Susilo membenarkan, jika tim Liga 1 dan Liga 2 sempat berminat menyewa JSG. Namun mereka mengurungkan niat tersebut karena Jember saat itu hanya bisa diakses dengan perjalanan darat. Butuh waktu setidaknya empat jam perjalanan kereta api dari Surabaya.
Sejauh ini, tim-tim sepak bola profesional yang tidak punya kandang lebih suka menggunakan stadion di Bangkalan dan Sidoarjo. Padahal, menurut Edi, saat awal dibangun, kualitas rumput lapangan sepak bola Stadion JSG di atas rata-rata. “Standar nasional. Sudah oke,” katanya.
Saat ini di Jember, aktivitas penerbangan komersial Jember-Jakarta sudah dibuka. Rencananya pada 5 Desember 2025, penerbangan Jember-Denpasar akan dibuka juga.
“Mungkin sekarang dengan adanya rute penerbangan, harus kita mulai tawarkan lagi. Dulu Arema sempat berminat mau di sini dan sempat berkomunikasi. Saya juga pernah berkomunikasi dengan Asprov (Asosiasi Sepak Bola Provinsi) Jatim. Saya titip kalau ada tim lain yang berminat,” kata Edi.
Namun kualitas stadion dan rumput JSG membuuhkan banyak pembenahan, karena sudah jauh menurun dibandingkan saat awal diperkenalkan ke publik pada 2015. Edi mengakui biaya perawatan JSG lumayan besar. “Memelihara rumput JSG luar biasa mahal. Kalau kita mau profesional sesuai aturan, mahal, karena itu berstandar nasional,” katanya.
Menurut Edi, ada semacam drainase di bawah rumput lapangan sepak bola di JSG. “Jadi meskipun hujan lebat, air langsung habis, enggak ada genangan sama sekali. Hari ini kalau kita lihat lewat drone, rumputnya hijau, bagus sekali. Tapi kalau kita cermati dengan teleskop, maka yang muncul adalah gulma, rumput teki, dan sebagainya, karena kami tidak punya duit untuk perawatan,” katanya.
Anggaran perawatan JSG hanya Rp 37 juta. “Akhirnya tenaga harian kami kalau mau ada event baru kerja bakti ramai-ramai. Padahal seharusnya itu ditangani profesional yang betul-betul paham terhadap rumput stadion,” kata Edi.
Sebetulnya dalam Perubahan APBD 2025, Pemkab Jember mengalokasikan anggaran kurang lebih Rp 500 juta untuk perbaikan JSG. “Tapi ini tidak bisa dieksekusi karena mepetnya waktu. Kalau dikerjakan, selesainya akan melebihi tahun anggaran,” kata Mufid, anggota Badan Anggaran DPRD Jember.
Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jember harus menyewa 12 orang untuk membantu perawatan sejumlah sarana dan prasarana olahraga. Selain JSG, ada Stadion Notohadinegoro, Gedung Olahraga PKPSO, Gedung Olahraga Argopuro, dan lapangan tenis di Kaliwates.
“Kalau hari ini mereka kami bawa ke JSG, minggu depan kami boyong mereka (untuk merawat) di Stadion Notohadinegoro. Jadi harus begitu, karena kalau tidak dibagi rata, tidak efektif dan tidak bagus juga,” kata Edi.
Selain arena olahraga di kota, Dispora Jember juga mengelola 26 lapangan olahraga di kecamatan-kecamatan yang bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah. Namun, menurut Edi, target pendapatan itu tidak semuanya berasal dari sewa arena olahraga. “Kalau hanya mengandalkan even olahraga, kecil sekali,” katanya.
Apalagi, lanjut Edi, beberapa pelaku plahraga meminta diskon dan dispensasi penggratisan biaya sewa karena tidak memiliki dana. “Kami harus berpikir berulang-ulang, karena (sarana dan prasarana itu) dipelihara, diperbaiki, bagus-bagus, tapi enggak ada event, kan percuma,” katanya.
Apalagi biaya perawatan untuk 31 sarana dan prasarana olahraga yang ditangani Dispora hanya dialokasikan Rp 514 juta dalam APBD 2026. “Ini tidak kami ubah sama sekali. Anggarannya sangat terbatas,” kata Edi.
Dengan keterbatasan anggaran dari tahun ke tahun, stadion tidak haram lagi digunakan untuk kegiatan non olahraga, seperti pertunjukan musik, pengajian, dan kegiatan politik.
Hasilnya lumayan. Menurut Edi, Pendapatan Asli Daerah Jember pada 2024 tembus hampir 130 persen dari target awal menjadi Rp 500 juta. “Tahun ini sudah masuk 95 persen,” katanya.
Sebelum Perda Nomor 1 Tahun 2024 diberlakukan, menurut Edi, konser Dewa 19 berkontribusi Rp 50 juta di JSG. “Kalau di Stadion Notohadinegoro Rp20 juta. Tapi di situ ada perjanjian, kalau dalam pelaksanaannya ada yang rusak, mereka (panitia) harus mengganti,” katanya. [wir]






