Blitar (beritajatim.com) – Citra petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) yang identik dengan selang air dan api kini bergeser drastis di lapangan. Sepanjang tahun 2025, Satpol PP dan Damkar Kabupaten Blitar justru lebih sibuk berjibaku melawan ancaman satwa liar yang masuk ke permukiman warga. Data terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan yakni sarang tawon menjadi ‘teror’ nomor satu, mendominasi lebih dari separuh operasi penyelamatan non-kebakaran.
Kasi Pemadaman, Penyelamatan, dan Sarana Prasarana Satpol PP dan Damkar Kabupaten Blitar, Tedi Prasojo, membuka data rekapitulasi penanganan timnya. Dari total 213 evakuasi non-kebakaran yang dilakukan selama setahun terakhir, gangguan tawon menduduki peringkat teratas.
“Ada 107 laporan sarang tawon dalam kurun setahun. Ini mendominasi operasi penyelamatan kami,” ungkap Tedi kepada awak media, Rabu(3/12/2025).
Tedi menjelaskan bahwa lonjakan laporan sarang tawon (tawon vespa/ndas) memiliki pola musiman. Peningkatan tajam biasanya terjadi saat memasuki masa pancaroba atau peralihan musim. Pada periode ini, populasi tawon cenderung lebih agresif dan memilih membangun koloni di atap rumah atau pohon yang berdekatan dengan aktivitas warga.
“Dalam beberapa bulan tertentu, intensitas laporan bisa menyentuh belasan hingga puluhan kasus. Ini situasi yang beresiko tinggi jika tidak ditangani tenaga profesional,” tambahnya.
Di posisi kedua, ancaman datang dari hewan melata. Damkar Kabupaten Blitar mencatat telah mengevakuasi ular sebanyak 65 kali. Berbeda dengan tawon yang marak saat pancaroba, teror ular justru meningkat seiring datangnya musim hujan berkepanjangan yang memaksa predator ini keluar dari habitat aslinya mencari tempat kering dan hangat seringkali di dalam rumah warga.
“Pengamanan lokasi menjadi prosedur wajib sebelum petugas memindahkan hewan, demi mencegah resiko gigitan atau serangan balik,” tegas Tedi.
Selain dua predator tersebut, Damkar Kabupaten Blitar membuktikan fungsinya sebagai unit ‘all-rounder’ dalam kedaruratan sipil. Tedi merinci berbagai jenis permintaan bantuan unik yang masuk, antara lain yakni kucing terjebak sebanyak 20 penanganan, pelepasan cincin (Ring Removal) sebanyak 11 kasus medis darurat serta Evakuasi Biawak ada 7 laporan. Dan penyelamatan manusia (Human Rescue) yakni 3 laporan kondisi darurat.
Meski beberapa kasus terdengar sepele atau jumlahnya kecil, Tedi memastikan tidak ada perbedaan standar operasional prosedur (SOP). “Baik itu monyet liar atau kunci mobil, penanganan dilakukan dengan prosedur keselamatan penuh,” ujarnya.
Tingginya angka laporan non-kebakaran ini, menurut Tedi, menjadi sinyal positif bahwa masyarakat Kabupaten Blitar semakin sadar akan keselamatan. Warga kini tidak lagi mengambil risiko menangani hewan berbahaya sendiri, melainkan mempercayakannya kepada petugas terlatih.
“Setiap laporan kami tangani 24 jam. Keselamatan warga menjadi prioritas utama, apapun bentuk ancamannya,” pungkasnya. [owi/aje]






