Jember (beritajatim.com) – Agama dan kekuasaan saling menopang. Maka perjuangan politik merebut kekuasaan tidak boleh dilepaskan dari aturan agama.
“Kita tahu bahwa Imam Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin pernah mengatakan, agama dan politik atau agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar, seperti dua saudara yang dilahirkan dari rahim yang satu,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Jember Madini Farouq, dalam acara silaturahmi ulama dan Majelis Taman Surga PPP, di Pondok Pesantren Darus Sholah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (2/12/2025).
Madini menegaskan, agama adalah pondasi, sementara kekuasaan atau politik adalah penjaga. “Kalau tidak ada pondasi, maka kekuasaan akan hancur, akan roboh. Kalau agama tidak disertai dengan kekuasaan atau kekuasaan tidak disertai dengan agama, maka akan hilang,” katanya.
“Almarhum Kiai Yusuf Muhammad (salah satu tokoh NU Jember) pernah menyatakan dalam pidatonya, bahwa kalau ada orang yang mengatakan kiai itu tidak boleh berpolitik, justru (orang itu) harus dicurigai,” kata Madini.
Menurut Madini, PPP saat ini tengah berupaya kembali ke basis ideologisnya di pesantren. Hal ini ditunjukkan dengan terpilihnya Taj Yasin Maimoen Zubair sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PPP.
Revitalisasi politik PPP ini, menurut Madini, diikuti dengan regenerasi. “Tanggal 13-14 Desember 2025, kami akan mengadakan latihan kepemimpinan kader dasar yang akan diikuti oleh lima orang peserta dari tiap kecamatan dengan batasan usia maksimal 35 tahun,” katanya.
Madini ingin PPP Jember diisi oleh tenaga-tenaga muda yang siap untuk membesarkan partai pada pemilu mendatang. [wir]






