Surabaya (beritajatim.com) – “Ini bukan sekedar takdir, tapi konsekuensi dari cara kita mengelola alam”. Pernyataan itu disampaikan Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Hijrah Saputra saat menanggapi banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatra.
Seperti diketahui, bencana banjir dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tersebut menewaskan ratusan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Ia menyebut cuaca ekstrem akibat siklon tropis senyar dan bibit siklon di Selat Malaka menjadi pemicu utama, namun dampaknya membesar karena kondisi lingkungan yang rapuh.
“Lereng gundul, pemukiman menempel sungai, drainase terbatas, dan infrastruktur vital yang belum adaptif memperparah situasi,” ujarnya dikutip Selasa (2/12/2025).
Hijrah menyoroti temuan kayu terdampar di sungai dan pesisir yang mengindikasikan penebangan hutan di hulu DAS. Hilangnya tutupan hutan, kata dia, mengurangi daya serap air dan meningkatkan potensi longsor.
Di sisi lain ia mengapresiasi respon darurat pemerintah seperti evakuasi udara dan laut, distribusi logistik, hingga pemulihan listrik.
Tetapi ia menilai kesiapsiagaan jangka panjang masih tertinggal, terutama pada sistem peringatan dini dan disiplin tata ruang.
Menurut Hijrah, mitigasi harus dijalankan bertahap. Yakni 72 jam pertama fokus pada SAR, logistik, dan layanan kesehatan, jangka menengah meliputi audit kerusakan, perbaikan infrastruktur, dan relokasi dari zona merah, dan jangka panjang melalui rehabilitasi DAS, reboisasi, normalisasi sungai, serta integrasi mitigasi ke RPJMD.
“Kalau ingin mengurangi korban di masa depan, ketahanan harus dibangun dari tata ruang disiplin, ekologi DAS yang pulih, dan peringatan dini regional yang terintegrasi,” tegasnya. [ipl/but]






