Banyuwangi (beritajatim.com) – Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Kabupaten Banyuwangi pada 3 Desember diwarnai berbagai kegiatan unik, mulai dari konvoi safety riding yang diikuti ratusan peserta disabilitas, pertandingan sepak bola “amputasi”, hingga panggung apresiasi yang menampilkan beragam kreativitas penyandang disabilitas. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan komitmen Pemkab untuk menjadikan Bumi Blambangan sebagai rumah yang aman melalui penguatan kebijakan inklusif.
Peringatan HDI di Banyuwangi diawali dengan pawai kendaraan yang diikuti oleh ratusan para disabilitas dan pendamping. Mereka mengenakan seragam sewarna oranye, berkonvoi dari Terminal Pariwisata Terpadu Sobo menuju SLBN Banyuwangi, dengan melewati rute strategis seperti Taman Makam Pahlawan dan Stadion Diponogoro.
Kegiatan ini menjadi simbolisasi bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian aktif yang tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan kota.
“Banyuwangi adalah rumah yang aman bagi semua. Dengan kebijakan inklusif yang akan terus kita perkuat bersama,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat menyapa peserta konvoi disabilitas.
Konvoi tersebut melibatkan ratusan teman disabilitas dari berbagai organisasi, menunjukkan kuatnya solidaritas di antara komunitas. Organisasi yang berpartisipasi di antaranya DMI (Disable Motorcycle Indonesia), Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia), PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), Taliwangi (Komunitas Tuli Banyuwangi), Paguyuban orangtua disabilitas, dan banyak lainnya.
Komitmen Pemkab Banyuwangi untuk membuka ruang bagi disabilitas dipertegas melalui serangkaian program nyata yang telah digulirkan.
“Kami berkomitmen akan terus mengembangkan kebijakan inklusif yang nantinya mampu membuka ruang seluas-luasnya bagi para disabilitas,” ujar Ipuk.
Di sektor pendidikan, Pemkab melaksanakan progran sekolah inklusif yang memberikan kersempatan bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk bisa bersekolah di sekolah umum bersama teman lainnya. Sementara di sektor ketenagakerjaan, Pemkab rutin membuka bursa kerja setiap tahun yang menyediakan ribuan peluang, termasuk bagi penyandang disabilitas.
Bukan hanya itu, upaya pemberdayaan juga menyentuh aspek ekonomi rumah tangga.
“Di sektor pemberdayaan, Pemkab juga memberikan pelatihan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga disabilitas. Hal ini sebagai upaya agar mereka bisa berdaya meski memiliki keterbatasan,” kata Ipuk.
Bupati Ipuk menambahkan bahwa Pemkab juga melibatkan disabilitas secara langsung dalam perumusan program dan kebijakan daerah. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebijakan yang dibuat tepat sasaran dan inklusif.
“Salah satunya lewat rembug disabilitas. Kita gali aspirasi mereka agar kebijakan daerah bisa mengakomodir kebutuhan semuanya, termasuk disabilitas,” kata Ipuk.
Program Pemkab tersebut mendapat apresiasi dari komunitas disabilitas. Ketua Forum Peduli Disabilitas Banyuwangi, Umar, menyampaikan rasa terima kasih. “Kami sangat berterima kasih diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi,” ujarnya.
Selain konvoi, puncak perayaan HDI di Banyuwangi juga dimeriahkan dengan pertandingan sepak bola Amputasi, yang pesertanya merupakan disabilitas tuna daksa. Acara kemudian ditutup dengan panggung apresiasi yang menampilkan beragam kreativitas teman-teman disabilitas, seperti pantomim, melantunkan ayat suci Al-Qur’an oleh teman netra, hingga nyanyian yang diperagakan oleh teman tuli-wicara. [alr/beq]






