Kediri (beritajatim.com) – Tim dari Setwapres RI melakukan kunjungan kerja ke Kota Kediri untuk memantau dan mengevaluasi Program Percepatan Penurunan Stunting yang dinilai berhasil menempatkan daerah ini pada peringkat kedua nasional untuk kategori kinerja terbaik tingkat kabupaten/kota.
Dalam Monev tersebut, tim secara langsung meninjau pelaksanaan intervensi di Ponpes Wali Barokah melalui layanan Posyandu Seruni yang selama ini dikenal aktif menjalankan program penanganan stunting secara komprehensif.
Kunjungan dipimpin oleh Siti Alfiah selaku Plt. Asdep Kesehatan, Gizi dan Pembangunan Keluarga, bersama Iing Mursalin sebagai Team Leader, serta tenaga ahli TPPS lainnya seperti Alie Sadikin, Kuswan, dan Joko Yulianto.
Dalam peninjauan tersebut, Alie Sadikin menyampaikan apresiasi atas capaian Kota Kediri yang dinilai konsisten menurunkan angka stunting. Ia menyebut peringkat dua nasional menjadi bukti bahwa implementasi program berjalan efektif dan dapat menjadi contoh bagi daerah lain.
Hasil pemantauan di Posyandu Seruni menunjukkan penurunan signifikan jumlah balita stunting, dari lebih dari 20 kasus menjadi 14 kasus dalam satu tahun. Artinya, sekitar 10 anak berhasil keluar dari kategori stunting melalui intervensi berkelanjutan.
Meski demikian, Tim Setwapres menegaskan bahwa penguatan beberapa indikator tetap perlu dilakukan, seperti cakupan imunisasi dasar lengkap, pemberian ASI eksklusif, serta pemenuhan MPASI sesuai standar kesehatan. Alie juga menilai dukungan anggaran dari Pemerintah Kota Kediri sudah proporsional, ditambah hadirnya program nasional Makan Bergizi Gratis yang diyakini bisa mempercepat penurunan kasus di tingkat daerah.
Ia mengingatkan bahwa angka stunting nasional masih berada di kisaran 19 persen dan pemerintah menargetkan penurunan hingga di bawah 5 persen pada 2030.
Menurutnya, kerja keras lintas sektor diperlukan agar target tersebut dapat tercapai dan daerah yang telah menunjukkan kinerja baik, termasuk Kota Kediri, dapat menjadi motor perubahan.
Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Kediri, dr. Muhammad Fajri Mubasysyir, menjelaskan bahwa penurunan stunting tidak hanya ditentukan oleh sektor kesehatan, melainkan kolaborasi seluruh dinas dan komunitas.
Ia menyebut stunting berkaitan dengan sanitasi, pola konsumsi, edukasi keluarga, hingga dukungan lingkungan sosial. Saat ini, Kota Kediri mencatat sekitar 700 balita stunting dari total 14.000 balita, dan pemerintah terus memperkuat upaya intervensi spesifik maupun sensitif di seluruh kecamatan.
Peran aktif Ponpes Wali Barokah menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian positif dari tim. Melalui Posyandu Seruni, layanan tidak hanya diberikan kepada keluarga pondok tetapi juga masyarakat sekitar, mencakup sekitar 70 balita serta sejumlah ibu hamil dan ibu menyusui.
Kepala pesantren, KH. Sunarto, menegaskan komitmennya dalam mendukung pencegahan stunting dan menyebut bahwa selama beberapa tahun terakhir tidak ditemukan gejala yang mengarah pada stunting di lingkungan pondok. Upaya tersebut diperkuat melalui program pemantauan tumbuh kembang dan pemberian makanan tambahan yang rutin dilakukan setiap bulan.
Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat peran Posyandu Seruni sebagai model kolaborasi pesantren dan pemerintah dalam menekan angka stunting. Keberhasilan Ponpes Wali Barokah dinilai berpotensi direplikasi oleh lembaga pendidikan lainnya, sehingga penanganan stunting di tingkat lokal dapat berjalan lebih cepat, terarah, dan berkelanjutan. [nm/kun]







