Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah banjir informasi yang kian tak terbendung, membuat kepercayaan publik terhadap konten digital justru menurun. Hal itu disampaikan Project Strategy & Management International Media Support (IMS), Eva Danayanti, yang menekankan bahwa tantangan terbesar dunia konten saat ini ialah krisis kepercayaan publik.
Eva menegaskan bahwa tujuan utama pembuat konten bukan semata mengejar viralitas, melainkan menghasilkan konten yang memberikan nilai nyata bagi masyarakat.
“Tujuan kita bukan hanya membuat konten viral, tetapi Konten yang membuat masyarakat lebih tahu, lebih mampu, dan lebih terhubung,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Eva dalam acara JATIM CONNECT: Konten Berdampak melalui Sinergi Humas, Media, dan Influencer, yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (26/11/2025). Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan serta peluang dalam membangun ekosistem komunikasi publik yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, Eva menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam dunia konten saat ini adalah krisis kepercayaan publik. Fenomena ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga terjadi secara global. Ada tiga bentuk utama tantangan tersebut, yang pertama news avoidance, di mana masyarakat menghindari berita karena dianggap melemahkan fungsi jurnalisme dan membuka ruang bagi disinformasi.
Kedua, distrust terhadap konten berbayar dan brand, publik menilai konten bersponsor sering tidak netral atau memiliki agenda tersembunyi. Ketiga, informasi politis yang memicu polarisasi. Banyak konten politik dinilai bias dan tidak menjelaskan dampak sosial secara utuh.
Eva mengutip Digital News Report 2022–2024 dari Reuters Institute, yang menunjukkan meningkatnya jumlah orang yang menjauhi berita karena merasa informasi yang mereka terima terlalu depresif, menyesakkan, atau tidak dapat dipercaya.
Menurut riset global tersebut, tingkat news avoidance meningkat hingga 35–40% di banyak negara. Masyarakat memilih menjauh dari informasi karena merasa berita yang mereka konsumsi terlalu negatif, memicu stres, dan disajikan secara berulang sehingga menimbulkan kelelahan informasi.
Selain itu, banyak orang merasa bahwa isu-isu yang diberitakan berada di luar kendali mereka sehingga memunculkan rasa tidak berdaya, sementara sebagian lain menilai berita yang tersedia tidak relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Krisis kepercayaan terhadap media turut memperparah situasi, khususnya ketika publik melihat adanya bias dalam konten politis serta menilai konten berbayar atau bersponsor sebagai sesuatu yang tidak netral dan sarat kepentingan.
Ditambah lagi, algoritma platform digital yang mendorong konten serupa secara terus-menerus memperkuat kejenuhan publik. Kombinasi berbagai faktor inilah yang membuat banyak orang akhirnya memilih menghindari berita, merasa lelah, hingga mempertanyakan kembali kredibilitas informasi yang mereka temui di ruang digital.
“Orang-orang mulai lelah membuka informasi yang itu-itu saja. Konten bernada negatif yang disajikan berulang membuat publik bosan, stres, bahkan kehilangan kepercayaan,” jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa konten yang memiliki transparansi proses, menyajikan cerita berbasis solusi (solutions journalism), dan melibatkan publik dalam proses pembuatannya terbukti lebih dipercaya. Ia juga mencatat bahwa media lokal memiliki tingkat kepercayaan tinggi karena kedekatannya dengan komunitas dan isu-isu yang relevan bagi warga. [fyi/beq]






