Probolinggo (beritajatim.com) – Polemik perbaikan Jalan Plosok di Desa Menyono, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Probolinggo, akhirnya mendapat klarifikasi dari pemerintah desa. Polemik ini mencuat setelah warga melakukan perbaikan jalan secara swadaya melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) setempat.
Kepala Desa Menyono, Novan Ali Wardoyo, menegaskan bahwa Jalan Plosok merupakan jalan buntu yang tidak masuk dalam daftar prioritas pembangunan pada tahun anggaran berjalan. Ia menyampaikan bahwa pekerjaan jalan yang pernah dilakukan pada periode sebelumnya juga bukan program resmi pemerintah desa.
“Jalan Plosok itu sebenarnya tidak ada anggaran khusus untuk saat ini. Kami meminta warga untuk bersabar karena pembangunan prioritas, khususnya rabat beton di Jalan Kaligunda, sudah direncanakan,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Menurut Novan, proyek rabat beton di Jalan Kaligunda akan direalisasikan setelah dana desa tahap dua dicairkan. Pihaknya juga telah mengimbau warga agar tidak terburu-buru melakukan perbaikan mandiri sebelum pembangunan utama desa selesai.
“Sebagai bentuk dukungan, kami akan menyisihkan material seperti semen dan pasir setelah proyek rabat beton selesai, dan warga cukup membantu dengan tenaga untuk pengerjaan swadaya di Jalan Plosok,” katanya.
Sementara itu, warga mengaku swadaya dilakukan karena kerusakan jalan sudah berlangsung lama dan kerap mengganggu aktivitas harian. Mereka mengumpulkan dana secara mandiri tanpa bantuan dari pihak luar maupun perangkat desa.
Lana, salah satu warga, mengatakan warga sudah tiga kali melakukan tambal sulam dari hasil patungan. Ia menyebut Jalan Plosok sering menjadi sumber keluhan tamu atau kerabat yang berkunjung.
“Sudah tiga kali tambal sulam. Kalau rusak lagi ya iuran lagi. Kasihan kalau ada kerabat dari luar yang mau main ke rumah, banyak yang jatuh karena tidak terbiasa dengan kondisi jalan,” jelasnya.
Ia menambahkan, momen Idulfitri menjadi waktu yang paling terasa berat karena banyak tamu yang kesulitan melewati jalur tersebut.
“Kadang saya bantu nyetir sepeda motornya. Soalnya banyak yang takut kalau nyetir sendiri,” katanya.
Tradisi gotong royong perbaikan jalan disebut telah lama menjadi budaya warga Menyono. Dengan solidaritas masyarakat dan keberadaan KSM, perbaikan jalan secara mandiri dinilai menjadi solusi sementara sambil menunggu program pembangunan resmi yang ditetapkan berdasarkan prioritas desa. [ada/beq]






