Surabaya (beritajatim.com) – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberi sinyal perombakan besar skema beasiswa mulai tahun 2026.
Kuota penerima akan difokuskan secara massif ke bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) hingga 80 persen, menyisakan 20 persen untuk non-STEM.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah taktis merespon ketertinggalan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso membeberkan, jumlah penduduk usia produktif Indonesia yang mengenyam pendidikan S2 dan S3 baru 0,53 persen. Angka ini tertinggal jauh dari negara tetangga.
“Kita masih seperlima dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand,” kata Dwi Larso saat sosialisasi di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), dikutip Jumat (14/11/2025).
Perubahan paling signifikan dalam skema baru ini adalah alokasi kuota 80 persen STEM yang dibagi lagi menjadi 60 persen untuk STEM murni dan 20 persen untuk STEM Adjective.
Menariknya, LPDP mengenalkan satu kategori baru yang disebut ‘General STEM’. Kategori ini dirancang untuk menjaring pendaftar yang memiliki ide bidang studi spesifik namun tidak tersedia di ‘menu’ yang ditawarkan LPDP.
Dwi menganalogikannya seperti masuk ke warung tegal (warteg). “Seringkali ketika dihadapkan dengan menu yang tersedia, (pendaftar) berpikir menu ini kurang menarik,” jelas Dwi.
“Kemudian Anda berpikir bahwa Anda memiliki menu (bidang studi) yang menarik dan berguna bagi bangsa namun tidak tersedia. Anda bisa masukkan di General STEM,” lanjutnya.
Di samping itu, meski dana abadi LPDP telah mencapai Rp181 triliun, Dwi mengakui kapasitas pembiayaan masih sangat terbatas. Sejak 2020, dari sekitar 50 ribu pendaftar setiap tahun, LPDP hanya mampu membiayai 4.000 hingga 10.000 orang.
“Setidaknya butuh Rp1.000 triliun agar tidak perlu khawatir terkendala biaya dalam membiayai masyarakat Indonesia untuk lanjut S2 maupun S3,” beber Dwi.
Fokus pada STEM ini, lanjutnya, adalah strategi untuk mengakselerasi target Indonesia Emas 2045. LPDP berharap 25 persen lulusan perguruan tinggi nantinya mampu membangun industri.
“Target kami pada 4.0 (tahun 2030) menuju Indonesia Emas 2045, kegiatan ekonomi, riset, dan inovasi itu dijalankan perguruan tinggi secara masif,” tegasnya.
Dwi membocorkan, detail menu lengkap beasiswa 2026 akan diumumkan pada Desember 2025.
“Januari akan kami buka pendaftaran. Kemudian Juni juga akan kami buka, yang mungkin metodenya akan berbeda. Namun esensinya tegak dan lurus untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya. [ipl/beq]






