Surabaya (beritajatim.com) – Sutradara Bayu Skak menyoroti potensi para sineas film Indi di Surabaya cukup besar. Hanya saja para sineas muda tidak punya sarana dan peralatan film yang memadai,
Hal itu diungkapnya dalam acara “Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal Lewat Sinema” yang dihelat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Surabaya, Rabu (12/11/2025).
Di hadapan para sineas muda dan perwakilan Kemenparekraf, sutradara film “Yo Wes Ben” dan “FoUfo” itu blak-blakan menyebut karya yang ditontonnya “masih biasa saja” jika dilihat dari kacamata industri.
“Kritiknya ya mungkin saya melihat bahwa ya itu masih biasa saja untuk kacamata yang industri. Tapi begitu saya melihat bahwa mereka tidak punya alat dan segala macam, itu luar biasa,” ungkapnya.
Bayu menyoroti bahwa alur cerita para sineas indi sebenarnya sudah mumpuni. Masalah utama, menurutnya, terletak pada keterbatasan teknis.
“Kenapa cutting-nya (potongan gambar) jadi jelek? Karena menggunakan lensa kamera yang biasa-biasa saja. Tadi kalau pakai lensa yang sinematik, dan itu mahal kan Mbak. Aku yakin banget mereka sudah bisa,” paparnya.
Bayu Skak, yang merintis karir dari jalur indi lewat YouTube, membagikan resep utamanya untuk sukses: “Wani” (Berani).
“Harapannya ke teman-teman ini semuanya, berani nomor satu. Apalagi kita sama-Sama Jawa Timurnya. Masa Jawa Timur nggak Wani, rek! Mosok isin, rek! Harus Wani wes!” serunya disambut antusiasme peserta.
Ia menceritakan pengalamannya menggunakan YouTube untuk membangun “masa” (audiens) yang menjadi validasi saat berhadapan dengan produser besar di Jakarta.
Bayu juga memuji langkah kolaborasi Kemenparekraf dengan Vidio.com untuk mendanai film pendek potensial. Ia melihat ini sebagai jembatan vital, mencontohkan kesuksesan film “Tilik” yang bermula dari film pendek hingga akhirnya dilirik produser besar.
Kemenparekraf: Ruang Kolaborasi di Tengah Keterbatasan Anggaran
Menanggapi tantangan yang diungkap Bayu, Riwud Mujirahayu, Tenaga Ahli Menteri bidang Perencanaan Keuangan dan Program Kemenparekraf, mengamini pentingnya peran fasilitasi pemerintah, meski dihadapkan pada tantangan nyata.
“Inilah mengapa penting bagi kita untuk menghadirkan ruang seperti Bicara Film agar potensi dan kearifan lokal itu tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi kekuatan ekonomi yang terus tumbuh,” buka Riwud.
Riwud menjelaskan bahwa acara seperti “Bicara Film” di Surabaya yang juga menghadirkan sineas di balik film “Cocote Tonggo” menjadi ruang penting bagi industri dan komunitas untuk bertemu, berbagi, dan belajar.
“Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk bertemu, berbagi, dan belajar dari pengalaman nyata para sineas maupun komunitas film yang menjadi ujung tombak ekosistem kreatif kita,” tambahnya.
Namun, ketika disinggung mengenai minimnya alat produksi yang dikeluhkan Bayu, Riwud tidak menampik adanya kendala besar, anggaran.
“Memang saat ini anggaran kami masih terbatas,” ujar Riwud.
Meski demikian, Riwud menegaskan solusi Kemenparekraf saat ini adalah mendorong kolaborasi ‘Hexahelix’ sinergi lintas pihak antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan.
“Hanya dengan sinergi inilah karya-karya film daerah bisa berkembang dan diterima secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.
Data BPS, lanjut Riwud, menunjukkan pertumbuhan pekerja di sektor film, animasi, dan video yang signifikan, melonjak dari 120.000 menjadi hampir 300.000 orang. Ini membuktikan potensi besar industri yang harus didukung.
“Kami berharap, kegiatan Bicara Film ini dapat terus menjadi wadah inspirasi, jejaring, dan kolaborasi. Semoga dari forum ini lahir ide-ide baru yang membawa perfilman Indonesia semakin berakar pada kearifan lokal, namun juga semakin diperhitungkan di kancah global,” pungkasnya.[rea]






