Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi melalui kader posyandu terus menggencarkan aksi jemput bola untuk mendeteksi gejala tuberkulosis (TBC) sejak dini. Langkah ini dilakukan guna menekan lonjakan kasus sekaligus mempercepat penanganan di setiap wilayah.
Salah satu pasien TBC, Suhaimi (57), warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, mengaku sudah tiga bulan menjalani pengobatan rutin. Ia mendapatkan obat secara teratur yang diantarkan langsung oleh petugas puskesmas ke rumahnya.
“Semua pengobatan gratis, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit tidak ada biaya sepeserpun. Saya juga sempat dirawat inap empat hari ketika awal dinyatakan TB, dan petugas rutin datang memantau ke rumah,” ungkap Suhaimi, Rabu (12/11/2025).

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, deteksi dini menjadi kunci penting dalam menekan penyebaran TBC.
“Dengan deteksi dini TBC, maka semakin cepat ditangani dan penularan semakin ditekan,” ujar Ipuk.
Selain memperkuat pengobatan, Pemkab Banyuwangi juga melakukan intervensi di aspek sanitasi keluarga pasien, termasuk mengedukasi masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat.
“Menjaga gizi, pola hidup sehat, mengurangi kebiasaan merokok, serta memperhatikan sanitasi ini harus menjadi perhatian bersama,” tambahnya.
Penanganan TBC menjadi salah satu prioritas Pemkab Banyuwangi di bidang kesehatan. Bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, 12 November, Pemkab juga menyalurkan bantuan sembako bagi pasien TBC dari keluarga pra-sejahtera.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Belanja Cantik 11 November (11/11), di mana ASN dan berbagai elemen masyarakat diajak berbelanja di warung rakyat untuk membantu warga kurang mampu.
“Khusus bulan November, belanja cantik kami salurkan selain kepada anak stunting dan keluarga pra-sejahtera, juga kepada pasien TB dan pasien yang membutuhkan,” pungkas Ipuk. [ayu/but]






