Kediri (beritajatim.com) – Setiap bulan November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada peristiwa heroik yang menggetarkan dunia. Pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Di tengah kobaran api perlawanan itu berdiri seorang tokoh muda yang dengan suaranya mampu mengguncang semangat rakyat dan menyalakan bara keberanian melawan penjajah, Bung Tomo. Dari balik corong radio, suaranya memecah keheningan kota Surabaya.
Pekik takbir dan ajakan maju ke medan laga menggema, memanggil setiap warga, santri, petani, dan pemuda untuk bangkit melawan pasukan Sekutu yang hendak mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda. Menurut Imam W. Zarkasyi, Anggota DPRD Kota Kediri sekaligus Ketua Fraksi Golkar, Bung Tomo bukan sekadar penyemangat perang, melainkan simbol kesadaran nasional bahwa kemerdekaan memiliki harga yang mahal.
Dalam salah satu pidatonya, kata Imam, Bung Tomo menyerukan, “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapa pun juga!” Pertempuran Surabaya yang menewaskan ribuan pejuang dan rakyat sipil menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa penakut. Dunia menyaksikan keberanian rakyat Surabaya yang bahkan menyebabkan tewasnya Jenderal Mallaby, simbol keteguhan bangsa ini melawan imperialisme.
Kini, delapan dekade berlalu, meriam sudah diam dan Surabaya telah menjelma menjadi kota modern. Namun semangat melawan penjajahan yang diwariskan Bung Tomo dan para pejuang tidak boleh padam. Bentuk penjajahan kini memang berbeda, datang melalui kekuatan ekonomi, budaya, dan informasi. Kekuasaan global dikendalikan oleh modal, korporasi multinasional, dan teknologi digital yang menguasai pikiran serta selera masyarakat. Imperialisme baru ini lembut tapi membelenggu, modern namun tetap menindas.
Imam W. Zarkasyi, menilai bahwa jiwa perjuangan Bung Tomo tetap relevan di era disrupsi. “Jika dulu rakyat mengangkat senjata, kini generasi muda harus mengangkat kecerdasan, kreativitas, dan moralitas untuk melawan penjajahan digital dan ekonomi,” ujarnya.
Ketua Fraksi Partai Golkar Kota Kediri itu menegaskan, nasionalisme hari ini tidak lagi soal pertempuran fisik, melainkan perjuangan untuk kedaulatan digital, kemandirian ekonomi, dan literasi informasi.
Generasi muda masa kini memiliki senjata berbeda, inovasi dan teknologi. Bila Bung Tomo menggerakkan rakyat melalui radio, kini pemuda bisa menggerakkan masyarakat lewat media sosial, konten edukatif, aplikasi, dan gerakan sosial digital. Namun, untuk menjadi pahlawan zaman digital, dibutuhkan literasi digital, daya kritis, dan semangat kebangsaan yang kokoh. Media sosial bisa menjadi arena perjuangan baru, menebar inspirasi, menolak hoaks, memperjuangkan keadilan, dan memajukan produk lokal.
Imam Zarkasyi juga menekankan pentingnya gotong royong sebagai jiwa revolusi yang tak lekang oleh waktu. “Pertempuran Surabaya tidak akan terjadi tanpa solidaritas rakyat. Hari ini, gotong royong bisa diwujudkan lewat kolaborasi lintas profesi, lintas generasi, bahkan lintas teknologi,” jelas politisi Partai Golkar Kota Kediri tersebut.
Ia menambahkan, semangat Bung Tomo bukan hanya tentang keberanian berperang, tetapi tentang keyakinan moral bahwa kebenaran harus diperjuangkan apa pun risikonya.
Dalam konteks kekinian, lanjut Imam, semangat Bung Tomo perlu dihidupkan dalam bentuk kolaborasi sosial dan tanggung jawab moral. Jika dulu arek-arek Suroboyo mengangkat bambu runcing, kini generasi muda harus mengangkat ilmu pengetahuan dan karakter. Jika dulu Bung Tomo melawan penjajahan bersenjata, kini bangsa ini melawan kemiskinan, kebodohan, dan korupsi.
Imam W. Zarkasyi menutup refleksinya dengan pesan, “Merdeka bukan berarti berhenti berjuang. Merdeka berarti berani bertanggung jawab atas masa depan bangsa sendiri.” Ia mengajak masyarakat untuk meneladani Bung Tomo dalam menjaga integritas dan kemandirian berpikir di tengah arus globalisasi.
Kota Kediri, 10 November 2025 “semangat Bung Tomo tidak pernah mati. Ia hidup di hati setiap orang yang berjuang dengan karya, kejujuran, dan pengabdian untuk bangsanya”. [nm/kun]






