Malang (beritajatim.com) – Peringatan Hari Santri Nasional 2025 menjadi momen penting untuk merenungkan kembali esensi dan peran santri bagi bangsa. Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma), Dr. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., membagikan refleksi mendalam tentang makna menjadi santri, baik dalam konteks sejarah maupun tantangan masa kini.
Dr. Yunus, seorang akademisi yang juga alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menjelaskan bahwa Hari Santri adalah pengingat akan kiprah historis kaum santri.
“Tentu peringatan hari santri nasional adalah memperingati kiprah santri dalam memperjuangkan negara kesatuan Republik Indonesia,” ujar Dr. Yunus.
Ia mengingatkan kembali pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratul Sheikh, yang mewajibkan santri berjuang membela negara.
Namun, menurutnya, perjuangan itu kini telah berevolusi. Santri di masa kini mengemban amanah untuk membela Indonesia dari penjajahan gaya baru.
“Penjajahan gaya baru adalah penjajahan yang tidak hanya menggunakan senjata, tetapi penjajahan dari sisi budaya, pemikiran, dagang, dan sebagainya. Maka santri harus tetap berada di garda terdepan. Caranya? Tentu yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapasitas diri,” jelas Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Keagamaan Unisma itu.
Dalam refleksi yang lebih mendalam, Dr. Yunus yang juga Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur menyoroti perdebatan di ruang publik, terutama media sosial, mengenai relasi antara kiai dan santri. Ia menyikapi pandangan luar yang kerap salah memahami tradisi luhur pesantren dan melabelinya sebagai feodalisme.
Menurut Dr. Yunus, perspektif tersebut muncul dari kacamata orang luar yang tidak memahami filosofi di dalam pesantren. “Tentu feudalisme adalah persepsi yang dibangun oleh mereka yang melihat pesantren dari aspek kacamata orang luar,” paparnya seusai upacara Hari Santri Nasional 2025, Rabu (22/10/2025).
Bagi seorang santri, apa yang terlihat dari luar sebagai ketundukan buta, sesungguhnya adalah manifestasi dari adab (etika) dan penghormatan tertinggi atas ilmu.
“Dari kacamata santri sendiri, sikap yang dilakukan oleh seorang santri kepada kiainya sama sekali bukan bentuk feodalisme. Tetapi itu adalah bentuk ketaatan, bentuk andap asor (rendah hati), itu adalah bentuk adab, itu adalah bentuk akhlak yang terus dijunjung tinggi,” tegasnya.
Baginya, tidak ada pikiran sedikit pun di benak santri bahwa mereka dimanfaatkan oleh kiai. Sebaliknya, itu adalah wujud pengabdian dan hikmat.
“Itulah bentuk pengabdian, bentuk hikmat yang ditunjukkan oleh seorang santri bagi seorang santri yang sudah diajarkan, diberikan ilmu, dientaskan kebodohannya oleh seorang kiai,” lanjut pria yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Unisma itu.
Mengutip pandangan luhur tentang guru, ia menyebut bahwa penghormatan itu tak ternilai.
“Maka satu huruf katanya Saidina Ali sudah cukup menjadi seorang guru, apalagi banyak huruf yang diberikan oleh seorang kiai. Kalau itu dikatakan sebagai budak, maka santri siap untuk dikatakan sebagai seorang budaknya kiai. Tidak ada masalah, itu saya pikir luar biasa pernyataan itu,” pungkasnya, menggarisbawahi kedalaman makna pengabdian demi ilmu. (dan/ian)






