Batu (beritajatim.com) – Di tengah sejuknya udara Kota Batu, tepatnya di kawasan perbukitan yang indah, sekelompok orang berkumpul di beberapa gazebo. Mereka dengan hati-hati mencelupkan canting ke dalam malam atau lilin batik yang telah dipanaskan.
Dengan penuh kehati-hatian, canting tersebut digoreskan di atas kain putih yang sudah berpola. Proses itu berulang-ulang, seperti simfoni kesabaran yang menyatukan tangan-tangan terampil untuk menciptakan sebuah karya seni yang tak ternilai harganya.
Di gazebo lainnya, keseruan yang sama terlihat. Sekelompok orang lain dengan telaten mencelupkan kuas ke dalam pewarna alami yang sudah disiapkan. Kuas itu kemudian menari-nari dengan lincah di atas kain putih, menciptakan pola batik yang memukau dalam sekejap. Tak hanya sekadar membatik, ini adalah simbol dari sebuah perjuangan, sebuah kolaborasi yang bertujuan untuk menciptakan kebaikan bagi sesama.
Rombongan ini berasal dari Grup Astra, yang berkunjung ke Desa Sejahtera Astra Bumiaji, Kota Batu, pada 21 Oktober 2025. Desa ini telah dikenal luas melalui karya Batik Bantengan dan pendirian Omah Pembatik Cilik oleh Anjani Sekar Arum, seorang perempuan tangguh yang juga pernah meraih apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 di bidang kewirausahaan.
Program Desa Sejahtera Astra, yang diinisiasi oleh Grup Astra, menjadi wujud nyata komitmen perusahaan dalam memberikan kontribusi sosial berkelanjutan untuk kemajuan bangsa. Desa Sejahtera Astra bertujuan untuk memberdayakan masyarakat desa, mengembangkan potensi ekonomi, dan mendukung pengembangan produk unggulan desa.
“Melalui berbagai kegiatan seperti pelatihan, pendampingan usaha, hingga penyediaan sarana produksi, program ini membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka,” jelas Deddy Pradityo, Opficon Head of Corporate Communications ASTRA Infra.
Di Desa Sejahtera Astra Bumiaji, Batik Bantengan menjadi salah satu simbol keberhasilan program ini. Melalui Omah Pembatik Cilik yang dibangun oleh Anjani, desa ini menjadi tempat di mana keterampilan membatik dipelajari oleh anak-anak dan masyarakat setempat secara gratis.
Kegiatan ini tak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga melestarikan warisan budaya. Hingga kini, karya batik Anjani telah dipamerkan di pasar internasional, memperkenalkan keindahan dan keunikan budaya Indonesia ke dunia.

Semangat untuk terus memberdayakan masyarakat juga terlihat dalam keberagaman produk olahan yang dihasilkan oleh masyarakat Bumiaji. Keripik apel, pia apel, hingga orange cake adalah beberapa hasil olahan makanan lezat yang cocok dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan.
Di samping itu, ada pula komunitas UMKM seperti Kripik Pisang Viloni dan Posyandu Jiwa “Teman Tersayang,” yang digerakkan oleh kelompok perempuan produktif. Mereka menghasilkan berbagai produk seperti kacang, kerupuk, telur asin, dan jamu tradisional, yang kini semakin dikenal dan digemari.
“Sebagai bagian dari Astra Infra, yang berfokus pada layanan infrastruktur publik, program Desa Sejahtera Astra juga memberikan dampak sosial yang signifikan. Melalui pembinaan berkelanjutan, Astra Infra mendorong komunitas-komunitas lokal untuk memperkuat branding produk mereka, memperluas pasar, dan tumbuh mandiri. Semua ini dilakukan dengan semangat kolaborasi dan gotong royong untuk menciptakan masa depan yang lebih sejahtera,” urainya.
Kegiatan membatik bersama media lokal Jawa Timur yang digelar oleh Astra Infra, seiring dengan peringatan HUT ke-24 Kota Batu, bukan sekadar acara perayaan. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memperkenalkan lebih jauh lagi program Desa Sejahtera Astra kepada masyarakat luas, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendukung program pengembangan masyarakat.
Ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa, dan berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Kisah Desa Sejahtera Astra Bumiaji adalah bukti bahwa kolaborasi, pemberdayaan, dan semangat untuk terus berinovasi dapat menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Di sini, seni batik bukan hanya sekadar karya, tetapi simbol dari upaya bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Anjani Sekar Arum (34), menambahkan bahwa ikon banteng dalam karya batiknya tidak terkait dengan Gerakan politik. Namun lebih pada budaya. Karena bantengan merupakan salah satu keseniah khas Kota Batu.
Nah, bantengan di Kota Batu digelar setiap satu tahun sekali, pada Agustus. Setiap tahun batik Anjani mengeluarkan dana minimnal Rp150 hingga 200 juta untuk gelaran bantengan nusantara. Uang tersebut berasal dari 30 persen penjualan batik Anjani.
“Sebesar 30 persen dari asil penjualan ita masukkan untuk kas bantengan. Kalau bulan Agustus jumlah wisatawan ke Kota Batu meningkat karena ada event bantengan. Perputaran uang mencapai Rp10 miliar sehari. Bantengan sudah go internasional, sedangkan batik Anjani sebegai cerita bahwa di Kota Batu ada budaya bantengan yang digerakkan karya seni batik ,” ujarnya. [suf]






