Jember (beritajatim.com) – Perjokian tes bahasa Inggris Computer Based English Profisiency Test (CBEPT) untuk calon wisudawan dengan menggunakan akal imitasi (AI) Chat GPT terungkap di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Empat orang jok, dua orang di antaranya alumnus, dan tujuh orang calon wisudawan terlibat dalam praktik perjokian ini. Kepala Unit Penunjang Akademik Teknologi Informasi dan Komunikasi Bayu Taruna mengatakan, penyelidikan masih dilakukan. “Diduga ada makelarnya juga. Kita tanya dari peserta, akan kami telusuri,: katanya, Senin (20/10/2025).
Motif empat joki ini berbeda-beda. “Ada yang kasihan ke temannya kok enggak lulus-lulus Ada yang memasang tarif, Rp 50 ribu-200 ribu,” kata Bayu.
CBEPT diberlakukan untuk semua calon wisudawan Universitas Jember. Mereka dites kemampuan berbahasa Inggris dan harus mendapatkan nilai minimal 450 untuk semua jurusan dan 475 untuk jurusan khusus Bahasa Inggris.
Calon wisudawan diberi kesempatan mengulang empat kali lagi dengan masa jeda setiap ujian 14 hari jika tak lulus. Namun berapapun nilai ujian pada kesempatan terakhir, menurut Kepala UPA Bahasa Hairus Salihin, tak akan mengganggu wisuda. “Dia tetap diwisudah,” katanya.
CBEPT pertama kali diselenggarakan pada masa Rektor Unej Nur Hasan. Tujuannya bukan untuk membebani calon wisudawan. “Namun perlu memperkenalkan bahasa Inggris, sehingga kawan-kawan yang lulus dari Universitas Jember nanti bisa bersaing di era digital yang serba berbahasa Inggris,” kata Hairus.
Kendati nilai CBEPT tidak menjadi syarat mutlak wisuda, ternyata Unej menemukan adanya calon wisudawan yang menggunakan jasa joki saat ujian, Kamis (16/10/2025). “Bahkan kami kemarin mendapati peserta. ujian yang menggunakan joki adalah calon wisudawan program studi Bahasa Inggris,” kata Bayu.
Bayu tidak habis pikir. “Kami sempat tanya secara langsung ke yang bersangkutan, kenapa melakukan itu? Alasannya: ‘saya banyak revisi dari dosen’,” katanya.
Jawaban itu tidak bisa diterima Bayu. “Sudah semester 9, msa enggak bisa. Itu kan basic banget. Sangat gampang soal-soalnya, kenapa harus pakai joki? Kebangetan itu,” katanya.
Modus perjokian ini memanfaatkan celah dalam sistem jaringan komputer di Unej, yang memungkinkan civitas akademika sebagai pengguna bisa mengakses melalui lebih dari satu perangkat.
Berdasarkan hasil pengungkapan Bayu, ada joki yang memanfaatkan chat GPT untuk menjawab pertanyaan ujian. Namun ada pula joki yang menggunakan skrip pemrograman. “Dia meng-inject sistem dengan menggunakan akses log in mahasiswa,” katanya.
Para joki tidak saling kenal dengan klien masing-masing. “Komunikasinya lewat chatting dan mereka menggunakan nomor HP baru,” kata Bayu.
Uang jasa perjokian itu ditransfer dengan menggunakan jasa layanan keuangan pihak ketiga. “Tidak langsung ditransfer ke rekening, karena bisa ketahuan,” kata Bayu.
Saat ini persoalan itu sedang ditangani Komisi Etik Unej. “Kami tidak bisa menoleransi hal seperti ini,” kata Bayu. Namun dia belum bisa menyebutkan sanksi yang akan dijatuhkan kepada pihak yang terlibat.
Menurut Bayu, tidak menutup kemungkinan alumnus yang terlibat sebagai joki bisa diperkarakan ke aparat penegak hukum. Namun semua ditentukan oleh hasil rapat Komisi Etik.
Terungkapnya kasus perjokian ini membuat Bayu lebih waspada. Dia berjanji akan memperketat sistem jaringan internal Unej.
Menurut guru besar Fakultas Teknologi Pertanian ini, tidak menutup kemungkinan aksi-aksi perjokian bisa merambah hingga ujian dan pembuatan skripsi. Syarat pemanfaatan akal imitasi (AI) dalam pembuatan karya ilmiah seperti skripsi akan semakin diperketat.
“Skripsi pun nanti kita akan cek apakah dapatnya dari AI atau tidak. Karena sekarang mudah banget generate pakai prompt yang benar, sudah muncul naskah skripsinya. Datanya masuk nanti muncul. Nah, ini kan enggak boleh. Kami sudah ada sistem untuk mengecek artificial intelligence, apakah dia menggunakan layanan AI atau tidak,” kata Bayu. [wir]






