Ponorogo (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo menyoroti peningkatan risiko gempa bumi di wilayahnya. Dalam kajian risiko bencana 2025–2030, BPBD menempatkan gempa bumi sebagai salah satu dari lima bencana prioritas yang perlu diwaspadai, seiring meningkatnya tren aktivitas seismik selama satu dekade terakhir.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun mengatakan, hasil kajian menunjukkan potensi gempa bumi di Bumi Reog memiliki tingkat risiko sedang dengan tren yang terus naik. Meski tidak berpotensi tsunami karena jauh dari garis pantai, ancaman gempa tetap menjadi perhatian serius.
“Gempa bumi ini memiliki tingkat risiko sedang dan kecenderungan trennya naik dalam 10 tahun terakhir. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kesadaran dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana tersebut,” ujar Masun, Kamis (16/10/2025).
Masun menyampaikan hal itu usai menghadiri Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) yang digelar BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk di Ponorogo. Menurutnya, kegiatan tersebut penting untuk memperluas pengetahuan publik mengenai kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah yang berada di jalur sesar aktif.
BPBD menyoroti keberadaan Sesar Grindulu yang melintas di wilayah selatan Ponorogo, tepatnya di Kecamatan Ngrayun dan Bungkal, kemudian berlanjut hingga ke Pacitan. Aktivitas sesar ini menjadi faktor utama dalam peta kerawanan gempa di daerah tersebut.
“Secara faktual ada Sesar Grindulu yang melewati Ponorogo, yaitu di Kecamatan Ngrayun dan Bungkal. Lalu lurus ke selatan yaitu di Pacitan. Namun aktif tidaknya perlu dikaji kembali oleh BMKG,” imbuhnya.
Berdasarkan catatan BPBD, sejumlah peristiwa gempa pada 2006, 2021, dan 2023 menunjukkan pola kerusakan yang serupa. Bangunan yang roboh umumnya merupakan rumah lama tanpa struktur bertulang.
“Kesimpulannya, bangunan seperti itu berisiko terdampak bencana gempa bumi. Saya harap ke depan sudah tidak ada lagi bangunan kuno seperti itu,” jelas Masun.
Ke depan, BPBD Ponorogo berharap penerapan teknologi peringatan dini (Early Warning System/EWS) dapat direalisasikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga.
“Saya berharap ada teknologi yang bisa mendeteksi lebih awal terjadinya bencana gempa bumi. EWS lah istilahnya, jadi sebelum terjadi bencana itu bisa diprediksi sehingga kita bisa lebih siap,” pungkasnya.
BPBD Ponorogo optimistis, dengan edukasi berkelanjutan dan penguatan mitigasi non-struktural, masyarakat akan semakin tangguh menghadapi risiko gempa. Langkah antisipatif diharapkan dapat meminimalkan dampak bencana di masa mendatang. [end/beq]






