Jakarta (beritajatim.com) – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menekankan bahwa setiap tayangan penyiaran harus dilakukan dengan bijak dan memiliki fungsi edukasi serta perekat sosial, menyusul polemik tayangan program Xpose Trans7 yang dinilai melecehkan martabat ulama, khususnya Kiai sepuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH. Anwar Manshur.
Menurut Lia, tayangan yang mengandung narasi negatif dan memprovokasi bisa merusak nilai-nilai sosial yang dijunjung masyarakat. Ia mengingatkan agar penyiaran tidak hanya mengejar viralitas, tetapi tetap menghormati norma dan kaidah sosial.
“Kami menolak framing negatif yang membuat kegaduhan dan merusak nilai-nilai sosial. Indonesia adalah negara yang santun dan menghormati nilai-nilai agama,” ujar Lia, Rabu (15/10/2025).
Putri tokoh NU KH. Masykur Hasyim ini menjelaskan, dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran disebutkan bahwa penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, dan perekat sosial.
“Jangan sampai ada oknum yang mengalihkan fungsi mulia penyiaran sebagai sumber provokasi atau memperkeruh suasana,” tegasnya.
Lia menekankan bahwa untuk memahami budaya pondok pesantren, seorang pembuat konten idealnya memiliki pengalaman nyantri atau setidaknya melakukan riset mendalam. Ia mencontohkan pengalamannya saat nyantri, di mana kebersamaan sangat terasa melalui kegiatan makan bersama dalam wadah besar dan kerja bakti atau ro’an pada hari Minggu.
“Fine-fine saja terkait roan tersebut, karena dilakukan bersama sembari canda gurau, justru menjadi kenangan indah,” kata Lia, yang juga merupakan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Banin wal Banat, sebuah boarding untuk mahasiswa di Surabaya.
Lebih jauh, Lia menilai, potret kekompakan santri dalam menjaga marwah kiai dan pesantren adalah contoh nyata anak bangsa yang sehat pikirannya, tangguh mental, dan cerdas mengikuti peradaban zaman. Menurutnya, hal ini menjadi angin segar menjelang peringatan Hari Santri Nasional.
“Terbukti, mereka mampu mengisi suara digital, sebagai suara positif netizen bahwa dunia pesantren adalah peradaban Indonesia yang harus dijaga keberlanjutannya,” jelas Lia. [hen/beq]






