Malang (beritajatim.com) – Angka stunting dan kemiskinan ekstrem masih menjadi dua tantangan besar yang dihadapi Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Menjawab persoalan ini, tim pakar dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggagas sebuah program terpadu yang menyasar langsung akar masalah melalui penguatan ekonomi dan perbaikan gizi secara simultan.
Melalui program bertajuk “Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat”, para akademisi UMM terjun langsung ke Soe pada 30 September hingga 4 Oktober 2025. Mereka datang dengan strategi holistik yang dirancang untuk menciptakan kemandirian jangka panjang bagi masyarakat setempat.
Koordinator program, Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si., menjelaskan bahwa kunci utama dari inisiatif ini adalah menjadikan penguatan ekonomi lokal sebagai fondasi utama dalam menanggulangi persoalan sosial. Fokus utamanya adalah merevitalisasi Koperasi Merah Putih agar dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang menampung sekaligus memasarkan produk industri rumah tangga warga.
“Kami melihat potensi besar di sini. Masalah stunting dan kemiskinan tidak bisa diselesaikan secara terpisah, karena keduanya saling berkaitan. Maka solusinya harus terintegrasi,” ujar Prof. Vina kepada beritajatim.com, Selasa (14/10/2025).
Program ini secara cerdas menghubungkan dua hal penting: perbaikan gizi balita dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Tim UMM berkolaborasi dengan ahli pengolahan makanan untuk melatih kelompok masyarakat, khususnya para ibu, dalam mengolah makanan bergizi tinggi berbahan lokal untuk anak-anak.
Uniknya, seluruh bahan baku berasal dari sumber daya alam lokal yang melimpah di Soe. Hasil olahan ini memiliki dua manfaat utama:
- Dikonsumsi langsung oleh balita untuk menekan angka stunting.
- Menjadi produk unggulan bernilai jual tinggi yang dikelola dan diserap oleh Koperasi Merah Putih.
Program UMM tidak berhenti pada tahap produksi. Untuk memastikan keberlanjutan, masyarakat juga dibekali dengan pelatihan manajemen keuangan, pengelolaan koperasi profesional, serta penguatan kelembagaan agar koperasi mampu bersaing secara modern.
Selain itu, tim UMM juga menanamkan mindset kewirausahaan, membangun mentalitas bisnis yang tangguh dan inovatif di kalangan masyarakat.
“Langkah selanjutnya, kami akan memberikan pelatihan intensif mengenai branding dan pengembangan jejaring pemasaran pada bulan depan. Tujuannya agar produk dari Soe bisa dikenal lebih luas dan pasarnya terus berkembang,” tambah Prof. Vina.
Sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera. “Program yang diinisiasi UMM ini diharapkan dapat menjadi model percontohan berkelanjutan untuk pengentasan kemiskinan dan penurunan stunting di wilayah lain di NTT,” jelas Vina.
Inisiatif strategis ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kabupaten TTS, Yusak E. Banunaek, SH., M.Hum., menyatakan bahwa program ini telah memberi dampak positif yang signifikan.
“Kegiatan ini sangat membantu pemerintah daerah, khususnya dalam pemberdayaan ekonomi melalui Koperasi Merah Putih. Pelatihan ini meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan masyarakat yang bermanfaat bagi pengembangan koperasi di tingkat desa dan kelurahan,” ungkap Yusak menutup. (dan/kun)






