Surabaya (beritajatim.com) – Perubahan besar tengah mengguncang industri otomotif dunia. Dari mesin berbahan bakar bensin menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV), tren global kini mengarah pada efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan.
Di tengah arus transformasi itu, VinFast—anak usaha dari konglomerasi raksasa Vietnam, VinGroup—tampil agresif menembus pasar Indonesia dengan strategi yang menyeluruh.
Deputi CEO of Sales and Network Development VinFast Indonesia, Aldo Andityra Rais, menegaskan bahwa VinFast hadir bukan sekadar menjual kendaraan, tetapi membawa visi besar elektrifikasi nasional.
“VinFast memiliki misi, values, vision untuk mendorong elektronik di seluruh Indonesia,” ujar Aldo.
Ia menjelaskan, VinFast bukan produsen kendaraan listrik sejak awal. Perusahaan ini didirikan pada 2017 dan masuk ke industri otomotif dengan segment kendaraan roda empat berbahan bakar bensin.
Pada 2018, VinFast mulai masuk ke segmen kendaraan listrik (Electronic Vehicle/EV) dengan menghadirkan motor listrik. Produksi motor listrik berjalan seiringan dengan produksi mobil bensin.
Barulah pada 2021, jenama ini memantapkan langkah dengan beralih penuh ke kendaraan listrik. Produksi kendaraan listrik massal dimulai pada 2022.

Menurut Aldo, keunggulan VinFast terletak pada kecepatan inovasi. “VinFast itu harus cepat. Kita bisa lihat sebagai contoh yakni Tesla, Tesla hanya berhasil mengembangkan 5 model, kemudian Xpeng ini baru hanya berhasil mengembangkan 4 model. Kita (VinFast) kurun waktu yang sama sudah mengembangkan 7 model di global, salah satunya Indonesia,” paparnya.
Fakta itu sejalan dengan data perusahaan yang menunjukkan bahwa VinFast menjadi salah satu produsen kendaraan listrik dengan pengembangan model tercepat di dunia. VinFast bahkan menghadirkan tujuh model dari berbagai segmen—mulai dari VF e34, VF 5, VF 6, VF 7, VF 8, VF 9 hingga VF 3—dalam waktu kurang dari lima tahun.
Pabrik utama VinFast di Hai Phong, Vietnam, berdiri di atas lahan seluas 335 hektare dengan kapasitas produksi 300 ribu unit per tahun dan tingkat lokalisasi komponen mencapai 60 persen. Dari basis inilah, VinFast kini memperluas jangkauan ke pasar Indonesia melalui strategi industri berlapis yang menekankan pada produksi lokal, jaringan distribusi luas, dan pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional.
“Di Subang, Jawa Barat, kita akan membuat juga untuk pabrik produksi,” imbuh Aldo.

Pabrik ini dirancang di atas lahan sekitar 170 hektare dengan investasi mencapai lebih dari USD 350 juta, dan akan memproduksi 50 ribu unit kendaraan listrik per tahun pada tahap awal.
Selain produksi, VinFast juga menyiapkan ekosistem penunjang kendaraan listrik. Saat ini, perusahaan telah memiliki 29 dealer di seluruh Indonesia, dan menargetkan pembangunan 63 ribu titik pengisian daya (charger) melalui kerja sama strategis dengan Pos Indonesia.
“Target kami 63 ribu charger untuk bisa tersebar di seluruh Indonesia, nantinya ada di kantor-kantor Pos Indonesia, kita kerja sama dengan kantor Pos. Karena kantor Pos Indonesia ini tersebar di setiap wilayah tingkat kecamatan di Indonesia,” ungkap Aldo.
Langkah ini menandai strategi besar VinFast: memperkuat fondasi industri otomotif ramah lingkungan, dengan menggabungkan kecepatan inovasi, efisiensi produksi, dan komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan.
Kehadiran VinFast di Indonesia juga sejalan dengan arah kebijakan nasional menuju emisi nol bersih (net zero emission). Pemerintah menargetkan dua juta mobil listrik dan 12 juta motor listrik beroperasi pada 2030, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat rantai pasok baterai dan EV di Asia Tenggara.
Dengan dukungan ekosistem besar VinGroup—konglomerasi bernilai kapitalisasi USD17,4 miliar dan lebih dari 133 ribu karyawan—VinFast membawa bukan hanya investasi, tetapi juga peta jalan transformasi industri otomotif menuju masa depan yang hijau dan berkelanjutan. [beq]






