Surabaya (beritajatim.com) – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Mabes Polri kembali mengidentifikasi 6 jenazah pada hari kesepuluh tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Rabu (8/10/2025). Total, tim DVI sudah mengidentifikasi 40 jenazah dari 67 kantong yang diterima dari tim evakuasi.
“Sampai malam ini, kami berhasil mengidentifikasi total 40 jenazah,” kata Kabiddokkes Polda Jatim, Kombes Pol M Khusnan Marzuki.
Sebanyak 6 jenazah tambahan yang sudah diidentifikasi itu antara lain; Abdus Somad (17) asal Sampang, Imam Junaidi (16) asal Bangkalan, Mohammad Fajri (14) asal Pabean Cantikan, M Nasihudin (15) asal Bangka Belitung, Ahmad Suwaif (15) asal Bangkalam, M Haikal (14) asal Bangkalan.
Sementara, 17 jenazah yang teridentifikasi pada Senin (6/10/2025) kemarin adalah Maulana Alfan Ibrahimavic asal Pabean Cantikan, Muhammad Soleh asal Bangka Belitung, Muhammad Mashudulhaq asal Dukuh Pakis, Rafi Catur Okta Mulya asal Putat Jaya, M Agus Ubaidillah asal Gresik Gudukan.
Firman Noor asal Tembok Lor, M Azka Ibadurrahman asal Jalan Randu, Daud Milal asal Jalan Sidokapasan, Nurudin asal Bangkalan, Ahmad Rijalul asal Jalan Dapuan Baru, M Royhan Mustofa asal Bangkalan, Abdul Fattah asal Sampang, Wasiur Rohib asal Gayungan, M Aziz Pratama asal Bekasi, M Daffin asal Semarang, M Ali Rahbun asal Tambelang, dan Sulaiman Hadi asal Bangkalan.
17 jenazah yang teridentifikasi pada Selasa (7/10/2025) antara lain; Mohammad Anas Fahmi asal Bangkalan, Mohammad Reza Syafii (14) asal Grogol Kauman Peneleh, Genteng, Afifudin (13) asal Tandes Surabaya, M Riski Maulana (16) warga Sidoarjo, M Ubaiddilah (17) warga Bangkalan, Narendra Sugiarto (16) warga Lamongan, M Ali Sirojudin (13) warga Krembangan Surabaya, M Azzam Habibi (14) warga Sidotopo Surabaya,
Lalu, M Maulidi Hasani Kamil (16), Ahmad Fatoni (17), dan M Azzam (17). Ketiganya merupakan santri asal Bangkalan. Muttakin (17) santri asal Kediri, Farhan (17) asal Kutisari Surabaya, Saifuddin (15) asal Sampang, Ahmad Ghuffari (16) asal Sidokumpul Gresik, M Ubaiddillah (15) warga Kalimantan Barat, terakhir Ahmad Albu Fahri asal Semampir Surabaya.
Khusnan memastikan keakuratan identifikasi mencapai 99,9 persen lantaran pihaknya menggunakan data DNA sebagai dasar ungkap identitas jenazah. Setelah pencocokan DNA, tim DVI juga mencocokan dengan data sekunder seperti pakaian, catatan gigi dan tanda khusus yang dimiliki jenazah.
“Untuk DNA itu secara keilmuan itu sudah 99,9999% ya. Artinya sudah mendekati tidak terbantahkan. Namun kita juga melakukan recheck terhadap jenazah dan data kita yang sudah kita catat supaya tidak ada kemungkinan salah ambil gitu,” pungkas Khusnan. (ang/ian)






