Malang (beritajatim.com) – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menawarkan sebuah gagasan revolusioner konsep industri biru berbasis pengolahan mikroalga dengan hilirisasi multisektor. Melalui inovasi bernama SAGARITA+, mereka merancang sebuah kawasan industri lepas pantai yang mampu memproduksi segala hal, mulai dari energi bersih hingga bioplastik.
Konsep yang diusung adalah Sistem Alga Generatif Terintegrasi untuk Bioetanol, Pengolahan Air Limbah, dan Akuakultur (SAGARITA+). Ini bukan sekadar proyek, melainkan sebuah visi untuk menjadikan lautan Indonesia sebagai pusat produksi energi dan pangan berkelanjutan.
Ketua tim, Vincenzio Jocelino, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari potensi besar yang dimiliki Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer dan potensi energi matahari yang sangat besar.
“Dengan memanfaatkan laut sebagai ruang produksi melalui mikroalga, kita bisa menghadirkan solusi konkret atas energy trilemma: keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi,” ungkapnya, Selasa (7/10/2025).
Mikroalga dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Vincenzio, organisme mikroskopis ini memiliki keunggulan luar biasa.
“Organisme ini mampu tumbuh sangat cepat, menyerap karbon dioksida lebih efektif daripada hutan tropis, dan menghasilkan berbagai produk bernilai tinggi. Dengan pendekatan SAGARITA+, mikroalga tidak hanya menjadi sumber bioenergi, tetapi juga basis industri multi-sektor yang berkelanjutan,” jelasnya.
Kunci dari konsep ini terletak pada hilirisasi multisektor yang komprehensif. Kawasan industri terapung tersebut dirancang untuk mengolah mikroalga menjadi beragam produk bernilai tinggi. Untuk sektor energi, kandungan lipidnya dapat diproses menjadi biodiesel atau bioetanol sebagai sumber energi bersih.
Di sektor pangan dan kesehatan, kekayaan protein, omega-3, dan antioksidan dalam mikroalga dapat dikembangkan menjadi suplemen atau bahan pangan fungsional. Tidak berhenti di situ, hasil sampingan seperti biomassa dapat dimanfaatkan untuk agrikultur sebagai pupuk organik berkualitas maupun pakan ternak.
Bahkan, senyawa polisakarida dari mikroalga dapat diekstraksi untuk memproduksi bioplastik ramah lingkungan, sekaligus membuka potensi kawasan ini sebagai sarana pariwisata edukatif tentang energi hijau dan ekonomi biru.
SAGARITA+ digagas untuk menciptakan kawasan ekonomi khusus (KEK) berbasis mikroalga. Kehadiran KEK ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, mendorong diversifikasi industri, dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi biru dunia.
“Kami optimistis SAGARITA+ dapat menjadi prototipe kawasan industri masa depan yang hijau, biru, dan mandiri energi. Harapannya, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen energi bersih, tetapi juga pionir dalam membangun peradaban baru yang berkelanjutan,” tambah Vincezio.

Gagasan brilian ini mendapat apresiasi tinggi dari jajaran pimpinan universitas. Wakil Dekan III Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB, Dr. Ir. Mochamad Bagus Hermanto, S.TP., M.Sc., menyebut ide ini sangat matang dan komprehensif.
“Tinggal bagaimana tim mampu mendeliver gagasannya secara optimal di PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) nanti, baik melalui poster maupun presentasi,” ujarnya.
Dukungan serupa datang dari Wakil Rektor III UB Bidang Kemahasiswaan, Dr. Setiawan Noerdajasakti, S.H., M.H. Ia menilai inovasi ini tidak hanya relevan untuk kompetisi, tetapi juga sangat berpotensi dikembangkan untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga inovasi ini dapat melangkah hingga PIMNAS dan menjadi kontribusi UB dalam membangun solusi berkelanjutan bagi bangsa,” tuturnya.
Sebagai wujud konkret, gagasan ini telah dipamerkan dalam bentuk blueprint berjudul “SAGARITA+: Kawasan Ekonomi Khusus Terintegrasi Kultivasi Mikroalga Lepas Pantai untuk Menjadikan Indonesia Pilar Ekonomi Biru Dunia” dalam acara Ekspo PKM Box PIMNAS X PMWF FTP 2025 pada Jumat (3/10/2025). (dan/but)






