Sidoarjo (beritajatim.com) – Dari sebuah inisiatif kolektif di masa pandemi, komunitas Kabut Malam dari desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Kabupaten SIdoarjo, berhasil mengubah tantangan menjadi peluang dengan menghadirkan produk herbal Jahe Merah Kalam dan Temulawak Kalam. Di bawah kepemimpinan Wahyu Eko Yulianto, komunitas ini memanfaatkan kearifan lokal dan gotong royong untuk membangun ekosistem usaha kreatif berbasis masyarakat.
Awalnya, jahe merah dipilih karena khasiatnya dalam menjaga daya tahan tubuh. Saat pandemi Covid-19 meningkatkan permintaan rempah, Kabut Malam menanam jahe secara kolektif, sekaligus menjual bibit, pupuk, hingga mengolah hasil panen menjadi minuman herbal bernilai tambah. Dari kebun bersama, lahirlah produk siap seduh yang menjadi identitas komunitas.
Proses Produksi Berbasis Tradisi
Pembuatan Jahe Merah Kalam dan Temulawak Kalam dilakukan melalui tahapan ketat: pemilihan rempah seperti kapulaga, serai, pandan, dan salam; penyangraian untuk memperkaya rasa; pemrosesan jahe merah dan emprit untuk diambil sarinya; hingga pemasakan bersama gula pasir selama 45 menit. Proses ini menghasilkan serbuk praktis, higienis, dan tetap kaya manfaat.
Legalitas dan Sertifikasi Halal
Sejak mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) pada 2020, Kabut Malam terus memperkuat legalitas usahanya. Puncaknya, pada 2025 produk herbal ini resmi memperoleh sertifikat halal melalui pendampingan Halal Center Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), didukung oleh Satrio Sudarsono, S.E., M.M., serta hibah BIMA yang digerakkan M. Andi Fikri, M.I.Kom.
Sertifikasi halal ini menegaskan keseriusan Kabut Malam dalam menghadirkan produk berkualitas sekaligus memberikan rasa aman kepada konsumen.
Sinergi Kampung, Kampus, dan Komunitas
Kehadiran Umsida melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) memperkuat Kabut Malam dalam jejaring ekonomi kreatif. Dukungan tersebut membuka akses pasar lebih luas, baik secara lokal maupun digital, serta mendorong terbentuknya kolaborasi yang berkelanjutan.
Tak hanya produk komersial, Jahe Merah Kalam dan Temulawak Kalam kini menjadi simbol keberanian komunitas untuk berdiri di atas kaki sendiri. Filosofi “Mekarlah dengan Sederhana” yang diusung Kabut Malam menjadi pengingat bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kesederhanaan, gotong royong, dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat.
Dengan capaian ini, Kabut Malam membuktikan bahwa produk herbal dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang berpadu dengan budaya, tradisi, dan pemberdayaan sosial di Sidoarjo dan sekitarnya. [but]






