Ponorogo (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo terus memperkuat ketahanan sektor pertanian.
Salah satu yang dilakukan, dengan membangun irigasi air tanah dalam (IATD). Tahun 2025 ini, diproyeksikan ada 15 titik pembangunan IATD. Program ini diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko kekeringan yang kerap melanda lahan pertanian saat musim kemarau.
“Tahun ini ada 15 titik pembangunan irigasi air tanah dalam,” kata Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo, Tamar Mahara, ditulis Jumat (3/10/2025).
Tamar mengungkapkan bahwa pembangunan IATD merupakan program berkelanjutan sejak beberapa tahun terakhir. Dia menyebut, hingga bulan September lalu, progres pembangunan mencapai 50 persen.
“Hingga September, progres pembangunan sudah mencapai 50 persen,” katanya.
Dari 15 titik yang dibangun, 2 di antaranya memiliki tantangan geografis yang cukup sulit. Yakni di wilayah Kecamatan Sooko dan Desa Ngadisanan di Kecamatan Sambit. Dia menjelaskan bahwa kondisi geografis tersebut, membuat kebutuhan anggaran lebih tinggi dibandingkan 13 titik lainnya. Rata-rata, pembangunan satu titik IATD menghabiskan dana sekitar Rp125 juta.
Berdasarkan data Dispertahankan Ponorogo, sejak 2021 hingga 2024 Pemkab Ponorogo sudah merealisasikan pembangunan 191 titik IATD. Kehadiran sarana irigasi ini menjadi penopang utama para petani agar tetap bisa berproduksi di tengah keterbatasan air saat kemarau panjang.
Program ini juga menjadi bukti keseriusan Pemkab Ponorogo dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian dan perkebunan, yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.
Upaya percepatan pembangunan IATD sejalan dengan kebutuhan mendesak petani Ponorogo. Pasalnya, setiap tahun lahan pertanian kerap terancam gagal panen akibat kekurangan pasokan air. Dengan IATD, petani dapat lebih tenang menggarap sawah maupun ladang meski musim kering tiba.
“Air merupakan kunci utama keberhasilan pertanian. Dengan adanya IATD, harapan kami petani bisa terbantu, hasil produksi meningkat, dan ketahanan pangan daerah lebih terjamin,” pungkas Tamar. (end/ted)






