Sidoarjo (beritajatim.com) – Musibah robohnya gedung tiga lantai Lembaga Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025) menyisakan kisah haru dan keajaiban.
Salah satu korban selamat yang berhasil dievakuasi setelah bertahan 72 jam di bawah reruntuhan beton adalah Syehlendra Haical (13). Kisahnya menjadi viral di media sosial sebagai simbol harapan di tengah tragedi.
Namun, di balik upaya tim SAR yang heroik, pengakuan Haical mengenai pengalaman spiritualnya selama terjebak telah menyentuh banyak hati.
Pengakuan Santri yang Bertahan Hidup: “Ayo Salat-salat”
Haical, santri yang dikenal luas setelah videonya berkomunikasi dengan tim SAR beredar, menceritakan pengalamannya kepada salah satu wali santri yang akrab dengannya.
Menurut wali santri tersebut, Haical mengaku bahwa selama tiga hari di bawah jepitan beton, ia merasa seperti tidak pernah meninggalkan salat wajib.
Haical menceritakan bahwa setiap kali waktu salat atau waktu rawatib tiba, ia mendengar suara yang seolah-olah membangunkan dirinya dan santri lain yang terjebak di dalam reruntuhan.
“Ayo salat-salat, dan santri di dalam reruntuh seperti terlihat semuanya bangun bergegas untuk menjalankan salat lima waktu. Mulai waktu subuh, duhur, ashar, maghrib dan isya’ pasti suara untuk membangunkan itu terdengar,” kata wali santri berinisial A, menirukan kisah yang disampaikan Haical.
Haical sendiri mengaku merasa biasa saja saat itu, seolah-olah ia memang sedang melaksanakan kewajiban salat seperti yang rutin dilakukan di pesantren.
“Ya Allah saya sampai meneteskan air mata mendengarkan cerita Haical itu,” tambah wali santri tersebut, menunjukkan betapa mengharukannya pengakuan Haical. Kisah ini bahkan diabadikan dalam bentuk rekaman dan dibagikan oleh Gus Hasan, salah satu putra pengasuh Pesantren Al Khoziny, melalui story WhatsApp.
Evakuasi Dramatis dan Simbol Harapan
Syehlendra Haical berhasil dikeluarkan dari timbunan beton oleh Tim SAR gabungan dalam kondisi selamat pada hari Rabu (1/10/2025) sekitar pukul 15.10 WIB.
Keberhasilannya bertahan hidup lebih dari tiga hari dengan minimnya akses udara dan makanan dianggap sebagai sebuah mukjizat oleh masyarakat.
Kisah Haical yang selamat di bawah reruntuhan dengan kondisi tetap ingat waktu salat segera menjadi trending dan menyebarkan energi positif di media sosial, menjadikannya sorotan utama dalam berita Sidoarjo tentang bencana ini.
Dalam total operasi evakuasi, tim SAR berhasil menyelamatkan 16 santri dalam kondisi hidup dan menemukan 2 korban dalam kondisi meninggal dunia. Kisah Haical kini menjadi pengingat tentang kekuatan iman dan harapan di tengah duka. (ted)






