Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena anak GTM atau Gerakan Tutup Mulut sering kali membuat orang tua merasa frustrasi. Anak yang biasanya lahap tiba-tiba menolak makan, menutup mulut rapat-rapat, atau hanya mau makan jenis makanan tertentu.
Kondisi ini sebenarnya wajar dialami anak, terutama pada usia balita, karena mereka sedang mengalami fase pertumbuhan, perkembangan emosi, dan penyesuaian selera.
Meski begitu, orang tua tetap perlu mencari cara agar nafsu makan anak kembali meningkat tanpa memaksa atau membuat waktu makan menjadi tegang.
Kenali Penyebab Anak GTM
Sebelum mencari solusi, penting untuk memahami penyebab GTM. Beberapa faktor yang sering menjadi pemicu antara lain:
Pertumbuhan gigi, membuat anak merasa tidak nyaman saat mengunyah.
Rasa bosan, jika menu makanan selalu sama.
Perubahan pola tidur, anak yang kurang istirahat cenderung rewel dan menolak makan.
Sedang sakit, misalnya pilek atau radang tenggorokan.
Pengaruh lingkungan, suasana makan yang kaku atau penuh tekanan dapat membuat anak enggan makan.
Dengan memahami penyebab, orang tua bisa menyesuaikan strategi agar anak kembali bersemangat saat makan.
1. Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan
Hindari memaksa atau marah saat anak menolak makan. Jadikan waktu makan sebagai momen santai dengan interaksi positif. Bisa dengan mengajaknya bercerita, mendengarkan musik lembut, atau menyajikan makanan dalam piring warna-warni agar lebih menarik.
2. Variasikan Menu Setiap Hari
Anak mudah bosan jika menu selalu sama. Cobalah berbagai variasi, misalnya nasi dibuat bola-bola lucu, sayuran dijadikan sup berwarna, atau lauk dipotong dengan cetakan berbentuk hewan. Variasi menu tidak hanya menggugah selera, tetapi juga memperkaya nutrisi.
3. Libatkan Anak dalam Proses Memasak
Mengajak anak ikut menyiapkan makanan bisa menumbuhkan rasa penasaran dan minat makan. Biarkan ia mencuci sayur, memilih lauk, atau menaburkan keju. Anak biasanya lebih bersemangat menyantap makanan yang ia buat sendiri.
4. Perhatikan Porsi Makan
Kadang anak menolak bukan karena tidak suka, tapi porsinya terlalu banyak. Mulailah dengan porsi kecil, lalu tambahkan jika masih terlihat lapar. Dengan begitu, anak merasa makan tidak menjadi beban.
5. Atur Jadwal Makan dengan Konsisten
Hindari ngemil berlebihan yang membuat anak kenyang sebelum makan utama. Atur jadwal makan yang konsisten, termasuk camilan sehat di sela-sela waktu makan. Hal ini membantu anak belajar kapan waktunya makan dan kapan berhenti.
6. Jadilah Role Model yang Baik
Anak sering meniru orang tua. Jika orang tua terlihat menikmati makanan sehat, anak akan lebih mudah tertarik mencoba. Makanlah bersama anak dan tunjukkan ekspresi senang saat menyantap makanan.
7. Periksa Kondisi Kesehatan Anak
Jika GTM berlangsung lama, berat badan tidak naik, atau anak tampak lemas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Bisa jadi ada gangguan kesehatan yang memengaruhi nafsu makan.
Kesabaran Adalah Kunci
Menghadapi anak GTM memang membutuhkan kesabaran ekstra. Ingat, fase ini biasanya hanya sementara. Dengan pendekatan positif, kreatif, dan konsisten, anak akan kembali lahap makan. Yang terpenting, fokus pada kualitas interaksi saat makan, bukan hanya seberapa banyak makanan yang masuk.
Membiasakan anak dengan suasana makan yang menyenangkan sejak dini juga akan membentuk pola makan sehat hingga dewasa. Jadi, jangan panik ketika anak GTM. Gunakan strategi yang tepat, dan perlahan si kecil akan kembali menikmati waktu makannya dengan ceria. [na/ian]






