Surabaya (beritajatim.com)- Banyak mahasiswa yang berpikir bahwa jiwa leadership atau jiwa kepemimpinan hanya bisa didapatkan ketika mereka sudah menduduki posisi penting, seperti ketua organisasi, ketua panitia, atau koordinator sebuah acara.
Padahal, leadership tidak selalu harus ada di posisi tersebut. Kemampuan ini justru bisa dilatih dari hal-hal kecil sehari-hari. Bahkan sebelum kamu dipercaya memimpin sebuah tim besar, kemampuan ini sudah bisa kamu bangun secara bertahap.
Berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk melatih jiwa leadership pada dirimumeskipun kamu beli menjadi ketua.
1. Mengambil Inisiatif dalam Tugas Kecil
Leadership selalu dimulai dimulai dari inisiatif atau keberanian untuk mengambil langkah pertama. Saat berada dalam tugas kelompok, kepanitiaan, atau sekadar pekerjaan rumah, biasakan untuk menawarkan diri untuk mengambil peran. Dengan ini kamu belajar mengenai rasa tanggung jawab dan percaya diri.
Selain itu, orang-orang akan menghargaimu dan membuatu dipercaya untuk mengemban tugas yang lebih besar. Jadi, jangan pernah meremehkan peran kecil, karena itu justru akan membuat jiwa leadership terasah pelan-pelan.
2. Belajar Komunikasi yang Efektif
Seorang pemimpin harus bisa menyampaikan segala sesuatu dengan jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Komunikasi yang efektif tifak hanya sekadar pintar berbicara, tetapi juga harus paham kapan kamu harus menyampaikan ide, mampu menyusun kata-kata yang sopan agar tidak menyinggung orang lain, dan bisa meyakinkan lawan bicara. Kamu bisa melatih cara berkomunikasi dengan baik di berbagai kesempatan, seperti saat melakukan presentasi di kelas, saat rapat organisasi, hingga saat kamu berbicara dengan orang lain. Jika kamu sudah terbiasa, kamu akan menemukan ritme komunikasi yang tepat.
3. Latihan Keja Sama Tim
Leadership bukan hanya tentang berdiri di depan dan memberi intruksi, melainkan tentang bagaimana kamu mampu berkolaborasi dengan orang lain. Inti dari sebuah kepemipinan justru terletak pada kemampuan menjalin kerja sama dalam sebuah tim. Ini juga bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti saat mengerjakan tugas kelompok, cobalah untuk mengargai ide dari setiap anggota dan jangan terlalu mendominasi.
Contoh lainnya adalah dalam sebuah kepanitiaan, biasakan untuk membantu divisi lain jika mereka membutuhkan bantuan dari divisi lainnya. Ini akan membuatmu terbiasa melihat kepemimpinan sebagai sikap dan tanggung jawab bersama, bukan hanya sekadar posisi.
4. Belajar Mendengarkan Pendapat Teman dan Memberi Solusi
Seorang pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi juga mampu mendengarkan, terutama mendengarkan pendapat orang lain. Hal ini bisa kamu latih pada saat temanmu menyampaikan masalah, biasakan untuk tidak langsung memotong pembicaraan untuk memberikan ruang pada mereka agar merasa dihargai.
Selain itu, cobalah untuk melatik dirimu untuk memberikan solusi atau masukan sederhana yang bisa membantu mereka keluar dari masalah tersebut. Semakin sering kamu melatih kemampuan mendengar dan memberi solusi, kemapuan problem solving akan terbentuk secara alami.
5. Observasi dan Belajar dari Pemimpin Lain
Cara lain yang tidak kalah penting untuk melatih jiwa leadership adalah dengan belajar dari contoh nyata. Perhatikan bagaimana ketua organisasi, senior, atau orang-orang penting saat memimpin. Catatlah hal-hal positif yang bisa kamu ikuti. Selain itu, jangan lupa pelajari juga kesalahan mereka agar kamu tidak mengulanginya. Dengan ini, kamu akan mendapatkan pelajaran tanpa harus menunggu pengalaman memimpin secara langsung.
Leadership bukanlah keterampilan yang hanya muncul ketika seseorang menduduki posisi ketua organisasi. Justru, semakin awal kamu membiasakan diri melatih hal-hal kecil, semakin matang juga kesiapanmu saat nanti benar-benar dipercaya untuk memimpin.
Jadi, meskipun belum memegang jabatan ketua, bukan berarti kamu tidak bisa belajar kepemimpinan. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk berkembang dan sikap terbuka terhadap setiap pengalaman baru.
[Pranata Dewi Ratna Swari]






