New York (beritajatim.com) – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan Indonesia di bawah kepemimpinannya berhasil mencapai swasembada beras dengan cadangan pangan tertinggi sepanjang sejarah. Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025) waktu setempat, ia menyatakan pemerintah kini mulai mengekspor beras ke negara-negara yang membutuhkan, termasuk Palestina.
“Kami kini swasembada beras dan mulai mengekspor ke negara lain yang membutuhkan, termasuk Palestina. Kami membangun rantai pasok pangan yang tangguh, memperkuat produktivitas petani, dan berinvestasi dalam pertanian cerdas-iklim untuk menjamin ketahanan pangan generasi mendatang. Kami yakin dalam beberapa tahun Indonesia akan menjadi lumbung hijau dunia,” tegas Prabowo.
Selain soal pangan, Prabowo menyinggung bencana kemanusiaan di Gaza. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap penderitaan masyarakat sipil dan menyerukan agar tragedi tersebut segera dihentikan melalui kekuatan bersama di forum multilateral.
“Anak-anak kita sedang menyaksikan. Mereka belajar soal kepemimpinan bukan dari buku teks, melainkan dari pilihan-pilihan kita. Hari ini, tragedi yang mengerikan di Gaza terjadi di depan mata kita. Mereka yang tak berdosa menangis meminta pertolongan, keselamatan. Siapa yang akan menyelamatkan mereka? Siapa yang akan menyelamatkan orang tua, perempuan, anak-anak? Jutaan menghadapi bahaya, trauma, dan kelaparan. Apakah kita bisa tetap diam?” ujarnya.
Prabowo menekankan pentingnya memperjuangkan tatanan multilateral yang adil agar perdamaian dan kemakmuran dapat dirasakan semua bangsa. “Kita harus bertindak sekarang. Kita harus memperjuangkan tatanan multilateral di mana perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukan hak istimewa segelintir, melainkan hak semua. Dengan PBB yang kuat, kita bisa membangun dunia di mana yang lemah tidak menderita karena kelemahannya, tetapi hidup dengan keadilan yang layak mereka terima,” katanya.
Ia juga mengajak negara-negara besar di dunia untuk menunjukkan kenegarawanan dalam menghadapi krisis kemanusiaan. “Mari kita teruskan perjalanan besar kemanusiaan — cita-cita tanpa pamrih yang melahirkan PBB. Mari kita gunakan ilmu pengetahuan untuk membangkitkan, bukan menghancurkan. Mari negara-negara yang sedang bangkit membantu yang lain untuk bangkit,” tegasnya.
“Saya yakin para pemimpin peradaban besar dunia — Barat, Timur, Utara, Selatan, Amerika, Eropa, India, Tiongkok, dunia Islam — akan bangkit menjalankan peran historis mereka. Kami berharap para pemimpin dunia akan menunjukkan kenegarawanan, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan menahan diri, mengatasi kebencian dan kecurigaan,” seru Prabowo. [hen/beq]






