Pasuruan (beritajatim.com) — Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, menjadi bukti nyata bagaimana program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) mampu menghadirkan perubahan positif. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang tergabung dalam kegiatan KKN-PMM sukses menggelar pelatihan kreatif berupa pembuatan reusable bamboo cutlery set serta berbagai produk anyaman bambu bernilai ekonomis. Program ini terlaksana berkat pendanaan dari Kemdiktisaintek 2025.
Pelatihan Anyaman Bambu
Kegiatan berlangsung dalam dua sesi bersama ibu-ibu Desa Plintahan. Pada pertemuan pertama, 27 Juli 2025, tim mahasiswa memberikan workshop pembuatan anyaman bambu petung, mulai dari proses menyerit hingga menghasilkan produk siap pakai. Hasil kerajinan yang dibuat beragam, antara lain kipas (ilir), besek, topi petani, tas mata kebo untuk hampers, pincuk makanan, keranjang buah, tempeh, hingga wadah ramah lingkungan lainnya. Setiap produk diarahkan agar tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai jual.
Pewarnaan dengan Bahan Alami
Pertemuan kedua, 3 Agustus 2025, menghadirkan suasana lebih meriah dengan materi pewarnaan seratan bambu menggunakan bahan alami jarenan. Pewarnaan ini membuat produk tampak lebih menarik dan modern. Setelah proses pewarnaan dan pengeringan, seratan bambu kembali dianyam menjadi produk estetik yang siap dipasarkan.
“Ibu-ibu di sini jadi tambah semangat. Ternyata bambu yang dulu hanya dianggap biasa, bisa disulap jadi barang cantik dan punya harga jual. Apalagi setelah diwarnai, hasilnya lebih menarik,” ungkap salah satu peserta workshop.
Rencana Pemasaran Produk
Tak berhenti di pelatihan, mahasiswa bersama warga merancang langkah lanjutan berupa pemasaran hasil kerajinan melalui platform e-commerce dan pasar lokal. Harapannya, produk bambu Desa Plintahan bisa menjangkau konsumen yang lebih luas, menjadi pilihan hampers unik, wadah makanan ramah lingkungan, sekaligus ikon produk khas desa yang berkelanjutan.
Dukungan Akademik dan Dampak Nyata
Kesuksesan program tidak lepas dari pendampingan dosen pembimbing, Rohman Dijaya, S.Kom., M.Kom., yang mengawal mahasiswa sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Program PMM dengan dukungan dana Kemdiktisaintek 2025 ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat desa dapat diwujudkan lewat keterampilan nyata yang langsung berimbas pada perekonomian keluarga.
Kini, Desa Plintahan tidak hanya dikenal sebagai desa pertanian, tetapi juga mulai menorehkan identitas baru sebagai pusat kreativitas kerajinan bambu bernilai jual tinggi. [but]







