Mojokerto (beritajatim.com) –Pada bulan Agustus 2026, Indeks Fluktuasi Harga (IFH) Kabupaten Mojokerto tercatat sebesar -0,28 persen. Hal tersebut menandakan terjadinya penurunan harga secara umum di sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat di Kabupaten Mojokerto.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi menjelaskan, jika penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh tiga kelompok komoditas, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok transportasi serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
“Sementara delapan kelompok komoditas lainnya tercatat stagnan, tidak mengalami kenaikan maupun penurunan harga. Komoditas yang memberi andil terbesar terhadap turunnya IFH adalah cabai rawit,” ungkapnya, Selasa (16/9/2025).
Penurunan harga cabai rawit terjadi akibat panen melimpah di sejumlah sentra produksi Jawa Timur, sehingga pasokan meningkat dan harga turun signifikan di tingkat pedagang maupun konsumen. Selain cabai rawit, beberapa komoditas lain yang ikut mengalami penurunan harga.
“Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bensin, tomat sayur, wortel, emas perhiasan, kentang, buncis, minyak goreng, daging sapi, dan bayam. Tapi ada juga komoditas yang justru mengalami kenaikan harga, antara lain bawang merah, beras, daging ayam ras, cabai merah, solar, telur ayam ras,” ujarnya.
Dari komoditas tersebut, bawang merah menjadi penyumbang kenaikan harga tertinggi. Bambang menjelaskan, jika kenaikan harga bawang merah dipicu oleh terbatasnya ketersediaan pasokan di pasar. Hal ini menyebabkan stabilitas harga terganggu dan mendorong harga di Kabupaten Mojokerto naik.
“Secara kumulatif, laju IFH Kabupaten Mojokerto dari Januari hingga Agustus 2025 tercatat sebesar 1,45 persen, sedangkan laju IFH tahun ke tahun (Agustus 2024–Agustus 2025) sebesar 1,80 persen. Kami akan terus memantau dinamika harga kebutuhan pokok dan melakukan langkah koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat,” tegasnya. [tin]






