Surabaya (beritajatim.com) – Ekonomi syariah dipandang sebagai kekuatan baru yang sedang mengalami pertumbuhan pesat di seluruh dunia. Direktur Eksekutif Departemen Regional Bank Indonesia, Muhammad Firdauz Muttaqin, menegaskan hal ini dalam seminar Flagship di Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2025.
Menurutnya, pertumbuhan ini didorong oleh jumlah penduduk muslim yang terus bertambah dan semakin menguatnya tren gaya hidup halal.
“Jika pertumbuhan jumlah umat muslim tidak diikuti dengan perkembangan gaya hidup halal, maka ekonomi Islam tidak akan bisa tumbuh sebesar sekarang,” jelas Muhammad Firdauz.
Ia mencontohkan, konsumsi masyarakat muslim global yang mencapai US$ 2,43 triliun menunjukkan potensi pasar yang sangat besar. Pertumbuhan ini juga didukung inovasi produk dan sertifikasi halal yang semakin terintegrasi.
Indonesia Targetkan Peringkat Pertama Global di 2029
Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al Aiyub, menyatakan optimisme bahwa ekonomi syariah adalah masa depan Indonesia. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ketiga global, dan ditargetkan menjadi peringkat pertama pada 2029.
“Pencapaian ini bukan hanya sekadar angka, melainkan hasil kerja keras seluruh pihak,” tegas Sholahudin.
Ia menambahkan, ekonomi syariah di Indonesia kini memiliki arah pengembangan yang jelas berkat Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS).
Ia menekankan bahwa Islam bukan hanya ritual, tetapi sebuah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek, termasuk sistem ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah daerah diwajibkan mengintegrasikan ekonomi syariah dalam pembangunan wilayahnya.
Sholahudin menyimpulkan bahwa keberhasilan ekonomi syariah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi. “Keberhasilan ekonomi syariah hanya dapat dicapai jika dilakukan secara berjamaah, berkolaborasi, dan saling menguatkan, layaknya bangunan yang kokoh,” tutupnya.[rea]






