Ponorogo (beritajatim.com) – Sebuah pemandangan tak biasa terjadi di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. Bukan di lapangan atau stadion, melainkan di hamparan persawahan seluas kurang lebih tiga hektare yang baru selesai panen, puluhan layang-layang beraneka bentuk menghiasi langit biru pada Minggu (14/9/2025) sore.
Festival layang-layang itu berhasil menyedot ribuan pasang mata. Dari naga raja yang menjuntai panjang, bapangan klasik, ram-raman, hingga layangan khas Bali, semua beterbangan di udara. Ada pula kreasi unik berbentuk kelelawar dan karakter populer One Piece yang membuat suasana semakin meriah.
Sesekali, benang layangan saling bersahutan. Tak jarang, duel udara itu berakhir dengan putusnya salah satu tali, disambut sorak-sorai pengunjung. Cuaca cerah dengan hembusan angin yang stabil membuat pertunjukan langit itu berlangsung sempurna.
Ibrahim Ramsey, bocah 10 tahun asal desa tetangga, datang bersama ayah dan adiknya yang baru berusia tiga tahun. Dia mengaku tahu ada festival layang-layang dari teman sepermainan di lingkungan tempat tinggalnya.
“Tahu ada festival layang-layang diberi tahu teman. Jadi tadi mengajak bapak untuk melihat,” kata Ibrahim.
Bagi Ibrahim, festival ini bukan pengalaman pertama. Dia mengingat sudah 3 kali ini melihat festival ayang-layang di area persawahan Desa Golan tersebut. Namun bagi sang adik, ini momen perdana yang membekas.
“Saya lihat di sini sudah 3 kali ini, tahun lalu juga sudah lihat. Ini adik baru pertama, seneng sekali dia melihat banyak layang-layang di langit,” tambahnya dengan senyum lebar.
Ruang terbuka yang biasanya dipenuhi padi kini berubah jadi arena hiburan rakyat. Warga berbondong-bondong datang, bukan sekadar untuk menyaksikan, tetapi juga merayakan kebersamaan. Festival ini menjadi bukti bahwa tradisi sederhana pun mampu menghadirkan kebahagiaan besar di tengah masyarakat Ponorogo. (end/but)






