Magetan (beritajatim.com) – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) kembali menghantam peternak sapi di wilayah Magetan. Di Desa Bogoarum, Kecamatan Plaosan, puluhan ekor sapi mengalami sakit hingga membuat para peternak merugi besar.
Dedi Primahardani, salah satu peternak setempat, mengaku sudah sebulan lebih menghadapi wabah tersebut. Dua ekor sapi miliknya ikut terjangkit, satu di antaranya sudah mulai pulih, sementara satu lainnya masih parah dan kesulitan berdiri karena kaki bengkak.
“Sudah satu bulan ini kembali merebak PMK sama LSD itu. Kalau PMK menyerang mulut dan kuku, sampai ada yang ambruk enggak bisa berdiri. Terpaksa dijual murah. Sapi saya satu hampir sembuh, tapi yang satu lumayan parah. Kalau berdiri susah,” ungkap Dedi, Minggu (14/9/2025)
Kerugian dialami para peternak karena harga sapi jatuh drastis. Dedi menceritakan, seekor sapi yang ia beli seharga Rp20 juta, terpaksa ia jual hanya Rp10,2 juta setelah terkena PMK selama dua bulan.
“Rugi separuh harga. Kalau yang lain malah ada yang beli Rp22 juta, tiga hari kena PMK, dijual lagi cuma laku Rp12 juta. Rugi Rp10 juta dalam waktu kurang dari seminggu,” terangnya.
Kondisi ini membuat peternak bingung. Pasalnya, vaksinasi PMK pernah didata oleh dinas terkait, namun kelanjutannya tidak jelas. Bahkan, sapi milik Dedi sendiri hingga kini belum pernah divaksin.
“Dulu pernah ada pendataan mau divaksin, tapi kelanjutannya saya enggak tahu. Sapi saya dua ekor ini belum divaksin,” katanya.
Menurut Dedi, kasus PMK dan LSD bukan hanya terjadi di desanya. Wabah serupa juga sudah menyebar di kecamatan lain seperti Poncol, Panekan, dan sebagian wilayah Plaosan. Ia menyebutkan, dari pengamatannya, ada ratusan sapi di desanya yang terdampak. Sebagian terpaksa dijual murah, sebagian lagi mati.
Peternak berharap ada perhatian pemerintah, termasuk kompensasi untuk menutup kerugian. Modal yang dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli sapi, kini terancam hilang. “Harapannya kalau ada yang mati atau roboh, ya ada kompensasi. Ruginya banyak, Mbak. Modal enggak balik,” tutur Dedi.
Biaya pengobatan pun tidak murah. Ia mengaku pernah mengeluarkan hingga Rp700 ribu untuk mengobati satu ekor sapi, namun hasilnya nihil. “Tetap mati sapinya,” ucapnya pasrah.






