Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya berangkat ke Singapura dalam program Learning Express dan TF Scale. Kegiatan yang didanai penuh oleh Temasek Foundation Internasional ini tak hanya sekadar kunjungan, melainkan ajang bagi para mahasiswa untuk berkolaborasi dengan Singapore Polytechnic menciptakan solusi inovatif bagi kesehatan lansia.
Wakil Rektor UM Surabaya, Radius Setiyawan menyebut keberangkatan ini sebagai gerakan “#KaburAjaDulu”. Bukan untuk lari dari masalah, tetapi untuk belajar di kancah global.
Menurutnya, kontribusi mahasiswa tak harus melulu lewat demonstrasi, tapi bisa juga melalui upaya nyata yang membawa dampak positif.
“Gerakan mahasiswa tidak hanya diwujudkan melalui demonstrasi atau kritik, tetapi juga lewat upaya belajar, berjejaring, dan memberi kontribusi nyata,” ujar Radius Rabu (10/9/2025).
Program ini juga memperlihatkan komitmen UM Surabaya dalam internasionalisasi kampus, yang menurut Radius, tidak hanya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) belaka.
Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian Masyarakat (LRIPM) UM Surabaya, Arin Setyowati, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada tema “Healthcare for the Elderly” (Kesehatan untuk Lansia).
Selama dua minggu, mulai 7-20 September 2025, para mahasiswa akan menggunakan pendekatan design thinking untuk menganalisis dan mengembangkan solusi bagi isu-isu kesehatan lansia di Singapura.
“Mereka akan belajar di kelas, berdiskusi, observasi langsung, hingga mewawancarai komunitas lokal,” kata Arin.
Proyek ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teknologi yang telah dikembangkan di kampus, seperti Sejiwa, alat pendeteksi stres pada lansia, dan EmoSafe, platform kesehatan mental. Arin berharap teknologi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Singapura.
Di sisi lain, kolaborasi ini bersifat timbal balik. Mahasiswa Singapore Polytechnic juga akan datang ke Surabaya pada akhir September untuk melakukan pengabdian masyarakat.
Salah satu peserta, Rahma Nur Aini, mengaku sangat antusias. “Kami ingin mengenalkan kampus ke kancah internasional dan membangun relasi. Semoga pengalaman ini bisa membuka peluang beasiswa, ide penelitian, hingga topik skripsi,” ujar mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris ini. [ipl/but]






