Bojonegoro (beritajatim.com) – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Padangan di Kabupaten Bojonegoro resmi membuka gerai pertamanya pada Minggu (31/8/2025), meski dana bantuan permodalan dari pemerintah pusat belum juga cair. Kehadiran koperasi percontohan ini menjadi simbol semangat kemandirian ekonomi desa yang tumbuh tanpa harus menunggu dukungan birokrasi.
Ketua KDMP Padangan, Arif Wahyudi, menegaskan koperasi mereka tidak hadir untuk bersaing, melainkan merangkul pelaku usaha lokal. “Kami bahkan telah menjalin kemitraan dengan produsen ledre (makanan khas Padangan), apotek, dan toko pertanian. Ini adalah wujud dari arahan pemerintah bahwa kehadiran KDMP harus berjalan bersama untuk kemandirian ekonomi desa,” ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Sebagai bentuk komitmen awal, sebanyak 750 anggota koperasi mendapat voucher belanja senilai Rp1 juta per orang yang berlaku selama setahun. Voucher itu bisa digunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, dan air mineral dengan harga terjangkau.
Wakil Bidang Usaha KDMP Padangan, Sugianto, mengungkap masih ada kendala regulasi, terutama terkait penjualan elpiji melon (3 kg). “Kami berharap ada kemudahan dari Pertamina pusat untuk persediaan elpiji di koperasi desa,” kata Sugianto. KDMP sendiri didesain layaknya toko modern agar mudah diakses masyarakat.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkop UM) Bojonegoro, Retno Wulandari, yang hadir dalam peresmian, menyatakan keberhasilan operasional KDMP Padangan dan KDMP Tlogoagung, Kecamatan Baureno, menjadi pemantik semangat Pemkab. “Kami menargetkan akhir 2025, semua 28 kecamatan di Bojonegoro minimal memiliki satu KDMP percontohan yang sudah beroperasi,” ujar Retno.
Ia menambahkan, kendala permodalan masih menjadi tantangan utama. Untuk itu, Pemkab Bojonegoro menyiapkan regulasi pendukung dan peningkatan kapasitas SDM pengurus koperasi desa. “Pendampingan dan bimbingan teknis (bimtek) akan kami gelar. Harapannya, para pemangku kepentingan dapat memberikan kemudahan agar KDMP segera merealisasikan usahanya dan memacu perekonomian desa,” pungkas Retno Wulandari. [lus/beq]






