Surabaya (beritajatim.com) – Aksi unjuk rasa dalam beberapa hari terakhir berdampak parah terhadap segala aspek kehidupan. Mulai dari nyawa manusia melayang, orang-orang terluka, gedung bangunan pemerintahan dibakar, dan barang-barang dijarah.
Menyikapi kondisi rusuh itu, Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Nonot Sukrasmono menghimbau seluruh warga untuk menahan diri, menahan emosi, dan berpikir lebih jernih. Tidak ikut-ikutan melakukan aksi yang bisa merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.
Nonot menyadari, aksi unjuk rasa atau menyuarakan aspirasi merupakan hak warga yang diatur atau dilindungi oleh undang-undang. Meski begitu, Nonot mengingatkan, penyaluran aspirasi bisa berdampak negatif jika dilakukan tanpa batas, berlebihan, dan bersifat merusak.
“Aksi unjuk rasa itu hak kita semua, adalah hak konstitusi. Namun, jangan sampai aksi unjuk rasa menjadi anarkhis. Yang bisa mengganggu keamanan, ketertiban, stabilitas, yang bisa berimbas pada ekonomi,” kata Nonot, Senin (1/9/2025).
Dampak ekonomi ini, menurut Nonot, tidak bisa diabaikan. Jika tidak terkendali, Indonesia berpotensi mengulang kembali krisis moneter di tahun 1990-an.
“Oleh karena itu kami mengimbau kepada seluruh warga Jawa Timur, untuk benar-benar menjaga kondisivitas Jawa Timur, Surabaya khususnya, yang merupakan salah satu barometer keamanan nasional. Mohon kepada seluruh warga Jawa Timur, khususnya Surabaya, jaga ketertiban, jaga kondisivitas,” kata Nonot mewanti-wanti. [but]






