Persebaya menunjukkan penampilan bintang lima saat menghadapi Bali United, dalam pekan ketiga Super League 2025-26, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (23/8/2025).
Kedua tim saling serang. Statistik yang dilansir website Persebaya.id menunjukkan Bali United lebih menguasai pertandingan (67 persen). Mereka juga lebih rapi dan terorganisasi dengan akurasi operan 84 persen (bandingkan dengan akurasi operan Persebaya yang hanya 79 persen).
Namun sepak bola bukan soal statistik belaka. Persebaya berhasil menang 5-2, dan mengerek klub ini ke peringkat empat klasemen sementara dengan enam angka.
Ini sejarah baru yang menunjukkan lima gol Persebaya dicetak lima pemain asing yang berbeda. Francisco Rivera pada menit 37, Risto Mitrevski pada menit 44 melalui sundulan, Mihailo Perovic pada menit 53, Bruno Moreira melalui tendangan penalti pada menit 61, dan Gali Freitas pada menit 82.
Tak hanya itu, dari lima gol yang dicetak Persebaya, empat di antaranya berkat assist atau kemelut yang diciptakan pemain impor di depan gawang. Gol pertama Rivera berkat umpan matang Bruno Morerira.
Rivera juga berjasa sebagai pengumpan bola pada skema gol Risto Mitrevski, dan pergerakannya menyebabkan Persebaya memperoleh hadiah penalti dari wasit Yudai Yamamoto dari Jepang. Gol terakhir Persebaya berawal dari bola tendangan keras Bruno yang ditepis kiper Bali United Mike Hauptmeijer dan berhail dimanfaatkan Gali Freitas.
Satu-satunya assist pemain lokal berasal dari Malik Risaldi yang memberikan operan matang untuk Perovic. Malik juga sempat beberapa kali membuka ruang dan menebarkan ancaman di sepertiga akhir serangan Persebaya.
Bagaimana kita menilai dominasi pemain asing Persebaya di hadapan 10.200 orang penonton pada pekan ketiga ini? Apakah pada akhirnya manajemen Persebaya merekrut pemain impor yang tepat?
Sejak kembali ke level teratas piramida sepak bola Indonesia pada 2018, ada 38 pemain asing yang bermain di hadapan publik Gelora Bung Tomo. Namun tidak semua bisa diingat. Sebagian menimbulkan decak kagum, sebagian jadi bahan ketawaan bahkan oleh Bonek sendiri.
Saat David da Silva memperkuat Persebaya pada musim 2018, sebagian Bonek meragukannya. Dia dianggap punya masalah rabun mata, dan oleh karenanya dianggap tak akan bisa bicara banyak.
Namun dalam 43 penampilannya bersama Persebaya, Da Silva menunjukkan jati diri sebagai predator kotak penalti. Dia mencetak 39 gol dan 6 assist.
Sejak kepergian Da Silva, Persebaya tidak pernah lagi menemukan striker haus gol. Sebagian penyerang impor baru malah jadi bahan lelucon, seperti Arsenio Valpoort dari Belanda dan Wilkson dari Brasil.
Beberapa nama pemain asing layak diingat karena performa apik mereka, seperti Taisei Marukawa dari Jepang punya teknik gocekan memukau. Sho Yamamoto dari Jepang menjadi legenda, karena berkat golnya, Persebaya mencetak sejarah untuk pertama kalinya mengalahkan Arema di Malang pada 1 Oktober 2022.
Sepanjang sejarah, prestasi Persebaya tak lepas dari kualitas apik pemain impor. Keberhasilan meraih juara Liga Indonesia 1996-97 tak lepas dari penampilan gemilang trio Brasil: Jacksen F. Tiago, Carlos de Melo, dan Justinho Pinheira. Ditopang pemain-pemain lokal berkualitas, Persebaya disebut sebagai Dream Team saat itu.
Musim 2004, tak ada yang bisa mengingkari besarnya peran Danilo Fernando dan Cristian Carrasco. Danilo mencetak gol kemenangan atas Persija di Tambaksari bersama Leonardo dalam pertandingan terakhir musim itu. Sebuah ‘grande finale’ bagi musim kompetisi Liga Indonesia terketat sepanjang sejarah, karena Persebaya dan PSM yang menduduki peringkat pertama dan kedua sama-sama mengantungi poin akhir 61.
Bagaimana dengan musim ini?
Saat ini dua pemain impor kunci Persebaya adalah Bruno Moreira dan Francisco Rivera. Bermain 94 kali di Persebaya, Moreira mencetak 28 gol dan 11 assist. Sementara Rivera mencetak 10 gol dan 9 assist dalam 32 kali penampilannya bersama tim berjuluk Bajul Ijo itu.
Dalam tiga pertandingan awal musim ini, Rivera sudah mencetak dua gol dan dua assist. Sementara Moreira mencatatkan satu gol dan satu assist. Praktis mereka terlibat dalam enam gol Persebaya. Peran keduanya jelas susah digantikan dan Persebaya beruntung memiliki duet tersebut.
Namun sejumlah pemain impor lainnya masih perlu diuji lebih jauh. Risto Mitrevski dan Mihailo Perovic memang mencetak gol. Namun kebobolan tiga gol dalam tiga pertandingan awal jelas bukan catatan bagus bagi seorang bek tengah seperti Risto.
Mencetak gol adalah bonus. Tugas utama Risto adalah memastikan bola tak sampai membuat Ernando bekerja keras, dan sejauh ini dia tak terlampau mengesankan.
Perovic setali tiga uang. Terlepas dari golnya saat melawan Bali United, performanya masih terlampau biasa saja untuk seorang ujung tombak. Dia harus cepat beradaptasi dengan mulai membuka rekening gol demi gol jika memang ingin bertahan lama di Persebaya.
Musim ini manajemen Persebaya mengontrak sepuluh pemain asing. Terbaru adalah Diego Maurício, seorang striker dari Brasil. Dia pernah sebelas kali memperkuat tim Brasil U20. Saat memperkuat Odisha, klub Indian Super League. dia mencetak 57 gol dan 19 assist dalam 110 penampilan. Cukup menjanjikan.
Namun sejak 2018, kita sering melihat pemain asing yang mulanya dianggap menjanjikan ternyata tak cukup bagus bahkan untuk disebut potensial. Kedatangan Mauricio ditanggapi dengan skeptis oleh Bonek. Apalagi usianya tak lagi muda: 34 tahun.
Dhion Prasetya, penulis buku tentang pemain asing Persebaya berjudul Persebaya and Them, mengkritik pola perekrutan pemain di Persebaya selama ini. “Sering kali perekrutan pemain ini diprakarsai manajemen dan bukan berdasarkan kemauan pelatih,” katanya.
Masalah harga juga menjadi pertimbangan dalam merekrut pemain. “Bisa jadi yang dicari harganya yang pas dengan budget. David da Silva saja sebetulnya bukan target utama pada musim 2018. Tapi insting manajer dan pelatih membawanya ke Surabaya. Sisanya adalah sejarah,” kata Dhion.
Kecurigaan Dhion bukannya tanpa alasan. Perubahan posisi Dejan Tumbas dari yang awalnya diharapkan menjadi predator di lini depan ke posisi bek kiri menunjukkan ada yang salah dari perekrutan pemain asal Serbia tersebut. Dan dua gol yang dicetak Bali United malam itu berawal dari sisi yang dijaga Tumbas.
Dhion menyarankan Persebaya memilih sosok direktur teknik yang bagus untuk memimpin perekrutan pemain, terutama pemain asing. “Sesuaikan dengan kebutuhan pelatih dan tim, sebab kebiasaan di Indonesia, pemain datang duluan baru pelatih direkrut,” katanya.
Jika pelatih adalah chef atau koki, pemain adalah bahan-bahannya, maka seorang direktur teknik adalah pemasok bahan-bahan berkualitas. Tanpa bahan berkualitas. seorang chef tak bisa berkreasi meracik makanan yang enak. Begitu juga pelatih sepak bola.
Liverpool menjadi contoh bagus besarnya peran direktur teknik dalam perekrutan pemain. Michael Edward berjasa mendatangkan Salah dengan harga relatif murah dari AS Roma, ketika Jurgen Klopp sebenarnya lebih melirik Julian Brandt.
Hal ini diungkapkan Ian Graham, mantan direktur riset Liverpool. “Kami sepakat Brandt pemain muda yang sangat bagus, namun seluarbiasa Mo. Dari data analisis kami, Mo Salah adalah penyerang sayap muda terbaik di Eropa,” katanya.
Mo Salah bisa bermain sebagai penyerang dan bermain melebar di depan. Sementara Brandt lebih berperan sebagai gelandnag serang. Perdebatan terjadi, dan Klopp akhirnya berhasil diyakinkan untuk merekrut Salah. Dan semua fans Liverpool kini perlu mencium tangan Michael Edward dan Ian Graham atas jasa mereka mendatangkan Salah.
Kita tidak tahu apakah perdebatan sehat seperti di Liverpool terjadi di Persebaya sebelum merekrut pemain, terutama pemain asing. Namun dari penjelasan Graham, ada yang bisa dijejaki Persebaya: jika dompet tak cukup tebal, maka perekrutan pemain harus mempertimbangkan banyak aspek terutama dari data dan rekam jejak pemain. Sains menjadi penting untuk menentukan kelayakan seorang pemain. Tak cukup potongan klip di Youtube.
Dengan kata lain: sains dan data akan memungkinkan Persebaya memilih pemain berkualitas bintang lima dengan harga kaki lima.
Orang bilang moneyball.
Saya bilang: kecermatan. [wir]






