Pamekasan (beritajatim.com) – Jumlah wilayah terdampak kekeringan akibat musim kemarau di kabupaten Pamekasan, khususnya pada tahun ini diprediksi meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Pada 2024 lalu, titik kekeringan akibat musim kemarau tersebar di sebanyak 269 dusun di 76 dari total sebanyak 178 desa di 11 dari total 13 kecamatan berbeda di Pamekasan. Di mana kecamatan bebas kekeringan hanya Pakong dan Pamekasan.
“Sejauh ini kami sudah merampungkan rekapitulasi daerah terdampak kekeringan tahun ini, tapi masih ada sejumlah dusun dan desa baru yang diajukan pihak kecekatan untuk diverifikasi,” kata Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, Akhmad Dhofir Rosidi,” Selasa (26/8/2025).
Guna memastikan jumlah titik terdampak kekeringan tersebut, pihaknya berencana untuk melakukan survei sesuai pengajuan dari pihak kecamatan terkait. “Mulai besok, tim BPBD akan turun melakukan survei ke beberapa wilayah tambahan yang diusulkan,” ungkapnya.
“Dari hasil survei itu, baru nanti kita petakan Daerah mana saja yang terdampak kekeringan, termasuk katagori kering kritis atau kering langka. Karena selama ini di Pamekasan, hanya ada dua jenis kekeringan, yakni langka dan kritis,” tegasnya.
Katagori kering kritis ditandai dengan kebutuhan air bersih per orang mencapai 10 liter lebih per hari, ditandai dengan jarak tempuh masyarakat hingga 3 kilometer (km) atau lebih pada titik air bersih. “Sementara kering langka ditandai kebutuhan air bersih warga kurang dari 10 liter per hari, dan jarak tempuh menuju sumber air sekitar setengah hingga 3 kilometer,” jelasnya.
“Kalau masuk katagori kering kritis dampaknya cukup berat, karena masyarakat harus menempuh jarak yang jauh hanya untuk mendapatkan air bersih. Itu sebabnya, pemetaan ini penting agar distribusi bantuan tepat sasaran,” pungkasnya. [pin/suf]






