Kediri (beritajatim.com) – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kembali memberi bukti nyata manfaatnya bagi masyarakat. Sutaji (53), warga Kelurahan Pakunden, Kota Kediri, yang divonis gagal ginjal, kini bisa menjalani hemodialisis atau cuci darah rutin dua kali seminggu tanpa terbebani biaya berkat JKN.
Pria paruh baya ini terdaftar sebagai peserta JKN dengan segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Ia mengaku merasakan langsung kemudahan layanan kesehatan yang disediakan pemerintah.
“Saya sudah menjadi peserta JKN sejak enam tahun lalu. Awalnya, mengalami tekanan darah tinggi, tapi karena merasa tidak terlalu parah, saya tidak memeriksakannya ke dokter. Saya hanya membeli obat di warung saja. Namun, seiring waktu, kondisi saya justru semakin memburuk,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Kondisi kesehatan yang tidak tertangani dengan baik membuat Sutaji kini bergantung pada prosedur hemodialisis. Tindakan medis ini dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring darah, membuang racun, sisa metabolisme, dan kelebihan cairan.
“Sebenarnya saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan saya gagal ginjal. Saya hanya ingat dulu sering mengonsumsi obat warung tanpa resep dokter. Mungkin karena itu penyebabnya sehingga saat ini saya harus rutin melakukan cuci darah secara rutin,” pungkasnya.
Saat ditemui di ruang perawatan rumah sakit, Sutaji tampak berusaha tegar. Ia mengaku sangat bersyukur telah memiliki perlindungan JKN. “Kalau tidak ada JKN, saya benar-benar tidak tahu bagaimana bisa bertahan menjalani pengobatan ini. Biaya untuk berobat gagal ginjal sangat besar, belum lagi saya harus menjalani cuci darah dua kali setiap minggu. Tanpa bantuan dari JKN, mungkin saya dan keluarga akan kewalahan menanggung semua biaya. Alhamdulillah sekarang semuanya ditanggung, saya hanya perlu fokus untuk sembuh,” ucapnya.
Sebelum sakit, Sutaji bekerja di usaha rental mobil. Namun karena kondisinya semakin memburuk, ia tidak lagi mampu bekerja. “Saya tidak bisa bekerja lagi seperti dulu. Sekarang hanya fokus berobat dan jaga kondisi. Untungnya semua biaya perawatan ditanggung JKN. Saya benar-benar merasa tertolong,” ungkapnya.
Melalui pengalamannya, Sutaji berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan dan tidak menunda mendaftar sebagai peserta JKN. Menurutnya, kepesertaan JKN bukan hanya dibutuhkan saat sakit, tetapi juga sebagai langkah antisipasi sejak masih sehat.
“Saya berharap orang-orang tidak menunggu jatuh sakit dulu seperti saya. Lebih baik menjaga dan mempersiapkan diri dari sekarang. JKN sangat membantu ketika kita benar-benar membutuhkannya” tutup Sutaji. [nm/aje]






