Lamongan (beritajatim.com) – Nama KH. Ahmad Muhtadi resmi diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Lamongan, menggantikan jalan yang sebelumnya bernama Jalan Raya Pasar Ikan. Penetapan nama KH. Ahmad Huhtadi sebagai nama jalan, dilakukan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, tepat pada momen Hari Kemerdekaan ke-80 RI, tanggal 17 Agustus lalu.
Wakil Ketua DPRD Lamongan Fraksi Gerindra, Imam Fadlli, mengatakan penetapan nama jalan tersebut merupakan usulan dari keluarga besar santri, alumni dan pengurus BP3MNU (Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama) Almuhtadi.
“Usulan itu disampaikan secara lisan dan tertulis oleh Ketua Pengurus, KH Ahnan Afif, dalam peringatan Haul ke-77 KH Ahmad Muhtadi, kepada Bupati Lamongan yang waktu itu hadir di halaman PP Almuhtadi Sendangagung Paciran, tangga 11 April 2025 lalu,” kata Imam, Selasa (19/8/2025).
Imam menjelaskan, KH. Ahmad Muhtadi merupakan Kiai, Ulama dan Pejuang kemerdekaan RI, yang gugur ditembak oleh Belanda dalam mempertahankan NKRI.
Kiai Ahmad Muhtadi lahir pada tahun 1908 di Desa Kranji, Kecamatan Paciran, putra dari KH Musthosa pendiri PP Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran. “Pada tahun 1921 beliau mulai menuntut ilmu di PP Tebuireng Jombang dibawah asuhan KH Hasyim Asyari Pendiri Nahdlatul Ulama, dipesantren ini beliau berhasil hafal Al-Quran selama 1 tahun,” ujarnya.
Dari Tebuireng, KH Muhtadi kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Seblak, Jombang, di bawah asuhan KH Ma’sum Ali disini beliau mendalami ilmu falak (astronomi) hingga menjadi kiai terkemuka yang ahli falak. Dari pondok Seblak kemudian ke Pondok Rejoso Jombang dan ke Pondok Siwalan Panji Sidoarjo.
“Setelah dari pesantren-pesantren. Kiai Muhtadi kemudian kembali ke Kranji Paciran dan menikah dengan Raden Robiah putri KH Umar Suto Sendangagung Paciran dan pengasuh PP Ismailiyyah Suto Sendangagung,” kata pria yang merupakan Alumni BP3MNU Almuhtadi, mulai dari MI, MTs dan MA tersebut.
Kiai Muhtadi kemudian menjadi pengasuh PP Ismailiyyah Almuhtadi dan mendirikan Madrasah Almuhtadi, jadi beliau merupakan salah satu ulama yang memiliki peran penting dalam pendidikan islam di Panturan Lamongan.
Pada peristiwa Resolusi Jihad dan perang 10 November 1945, kata Imam, Kiai Muhtadi merupakan satu dari sekian banyak ulama yang memberikan kontribusi langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI ini, beliau tampil sebagai aktor utama yang memobilisasi santri dan pejuang dari kawasan pesisir Pantura Lamongan
“Dengan spirit resolusi jihad itu Kiai Muhtadi kemudian mengorganisir dan memimpin barisan pejuang yang di kenal dengan laskar Hizbullah dan Sabilillah dari kawasan Pantura (Lamongan Tuban dan Gresik) untuk berperang melawan pasukan sekutu Belanda dalam perang 10 Nopember 1945,” ujarnya.
Pada agresi militer Belanda II tahun 1949, situasi wilayah Pantura Lamongan diwarnai dengan tindakan kejam oleh Belanda, salah satu peristiwa tersebut adalah penangkapan Kiai Muhtadi pada 3 Juli 1949 atau 7 Ramadan 1368.
Saat itu Kiai Muhtadi sedang berkerja di sawah, dengan tanpa perlawanan, pasukan Belanda berhasil menangkap Kiai Muhtadi sebagai upaya melemahkan perlawanan rakyat melalui penangkapan tokoh-tokoh agama dan masyarakat.
“Setelah penangkapan, rumah Kiai Muhtadi kemudian dibakar oleh pasukan Belanda termasuk membakar seluruh kitab-kitab dan buku-buku karya beliau hanh bisa digubakan mengajar santrinya di PP Ismailiyyah Almuhtadi,” kata Imam.
Pada tanggal 9 Juli 1949 bertepatan dengan 13 Ramadhan 1368, dua ulama besar dari Pantura yanh juga kakak beradik, KH Ahmad Muhtadi dan KH Moh Amin Tunggul yang sudah ditangkap Belanda, mau dipindahkan dari markas penjara Paciran ke Lamongan.
Dalam situasi terdesak oleh rakyat yang mengetahui penangkapan Kiai Muhtadi dan Kiai Amin, Belanda kemudian memindahkan para tawanan yang terdiri dari para Kiai dan tokoh agama, dengan berjalan kaki dan rantai di tangan berjalan dari Paciran hingga sampai di Desa Dagan Kecamatan Solokuro, akhirnya Kiai Muhtadi dan adiknya Kiai Amin di eksekusi oleh Belanda di Desa tersebut dengan beberapa penderek/pengikut/santrinya
Akhirnya dengan tembakan eksekusi Belanda secara kejam tersebut, Kiai Muhtadi dan Kiai Amin bersama beberapa pengikutnya wafat dan dimakamkan oleh warga sekitar di tempat yang tidak jauh dari lokasi penembakan.
“Kini makam pahlawan tersebut tampak terawat dan setiap 17 Agustus selalu digelar renungan suci dan ziarah ke Makam Pahlawan Kiai Muhtadi dan Kiai Amin di Desa Dagan,” ujarnya.
Atas perjuangan dan jasanya yang begitu besar, kini nama KH Ahmad Muhtadi diabadikan sebagai nama jalan, sebagai salah satu bentuk penghormatan.
Imam berharap masyarakat bisa meneladani spirit perjuangan, nasionalisme dan cinta tanah air Kiai Muhtadi, yang rela ditembak oleh Belanda demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Alhamdulillah, akhirnya di momen 80 tahun HUT Kemerdekaan RI tahun ini, Pak Bupati Lamongan Yuhronur Effendi mengabadikan nama Kiai Haji Ahmad Muhtadi sebagai nama jalan di Lamongan menyusul nama adiknya Kiai Amin yang sudah lebih dahulu menjadi nama jalan di Lamongan,” tuturnya. (fak/kun)






