Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa di Indonesia menghabiskan rata-rata 3-5 jam screen time tambahan setiap akhir pekan, menurut sejumlah studi kesehatan. Fenomena ini terlihat dari aktivitas seperti bermain gawai, menonton televisi, atau mendengarkan musik sambil rebahan yang kian mendominasi waktu luang.
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Dr. Farapti, dr., M.Gizi, mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat memicu masalah kesehatan serius bila dibiarkan.
“Dampak langsung screen time berlebihan antara lain mata lelah, nyeri pinggang atau leher, kurang tidur, serta tubuh terasa tidak bugar,” jelasnya, Sabtu (16/8/2025).
Ia menambahkan, risiko akan meningkat jika aktivitas tersebut disertai kebiasaan ngemil makanan tinggi kalori.
Menurutnya, efek jangka panjang bisa berupa obesitas dan sindrom metabolik, termasuk diabetes mellitus, hipertensi, dislipidemia, hingga penyakit jantung koroner. Penelitian timnya menunjukkan, semakin lama durasi screen time di luar tugas kuliah, semakin tinggi risiko obesitas pada mahasiswa.
Fenomena ini, kata Farapti, tergolong gaya hidup sedentary atau malas bergerak. “Ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan adalah kuncinya. Saat screen time disertai konsumsi makanan tinggi kalori, energi yang masuk lebih besar sehingga memicu penumpukan lemak,” ujarnya.
Ia menegaskan, mengurangi screen time sepenuhnya tidak realistis di era digital. Solusinya adalah mengelola durasi dan memadukannya dengan aktivitas fisik.
“Alokasikan waktu untuk olahraga atau kegiatan yang melibatkan gerak ringan. Ini akan membantu menyeimbangkan energi masuk dan keluar,” pungkasnya. [ipl/beq]






