Malang (beritajatim.com) – Radio Republik Indonesia (RRI) Malang menggelar konser musik bertajuk “Kita Indonesia Rock in Karlos 2025” pada Kamis (14/8/2025) di Rest Area Karangploso, Kabupaten Malang. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati HUT ke-80 RRI sekaligus memeriahkan bulan kemerdekaan.
Dengan mengusung semangat nasionalisme dan kebanggaan terhadap tanah air, riuh penonton berpadu dengan identitas Malang sebagai barometer musik rock di Indonesia. Ketua Pelaksana “Kita Indonesia” RRI Malang, Mario, mengatakan pemilihan musik rock sebagai genre utama konser didasari sejarah panjang Malang dalam melahirkan musisi rock ternama.
“Malang dikenal sebagai tempat lahirnya musisi-musisi rock ternama. Semangat ini juga didukung komunitas lokal yang ingin mengembalikan posisi Malang sebagai barometer musik rock di Indonesia,” ujarnya.
Acara ini menampilkan band-band rock lokal Karangploso, komunitas rock Malang Raya, serta bintang tamu nasional Heydi Ibrahim (vokalis Power Slave) dan Mel Shandy (Lady Rocker legendaris Indonesia). Konser ini bersifat gratis dan terbuka untuk umum sebagai bentuk ajakan RRI kepada masyarakat untuk merayakan kemerdekaan bersama.
“Kami ingin mengajak masyarakat ikut merasakan semangat merah putih melalui musik rock. Ini juga bagian dari rangkaian peringatan 80 tahun RRI mengudara untuk Indonesia,” tambah Mario.
Ketua Karangploso Rock City (KRC), Mahdi Maulana, menjelaskan bahwa konser ini juga menjadi bagian dari perayaan satu tahun berdirinya komunitas KRC.
“Ini versi hari yang pertama, karena setahun kemarin komunitas Karlos Rock City kita bikin. Ternyata banyak orang seusia kita yang masih senang dengan musik rock. Kami berharap bisa mengajak kembali generasi muda,” kata Mahdi.
Mahdi menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menghidupkan kembali semangat musik rock. Khususnya rock di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.
“Kita bukan masalah senang-senang sama genre musik, tapi sekarang musik yang populer banyak yang datar, kurang semangat. Kami berharap event seperti ini bisa membawa dampak di daerah lain, membangkitkan musik rock lagi,” tegasnya.
Menurutnya, komunitas yang hadir tak hanya dari Karangploso, tetapi juga dari daerah lain. “Banyak yang datang, mulai dari Malang Raya, Tulungagung, Blitar, sampai komunitas Long Hair yang sangat kuat,” ujarnya.

Stage Manager sekaligus panitia, Fery Firmansyah, menilai bahwa rock punya energi yang khas dan dibutuhkan generasi sekarang.
“Rock itu lebih gahar, keras, dan memberi semangat. Anak muda sekarang banyak yang depresi atau tertekan mental, mungkin karena kurang strong. Generasi 90-an lebih kuat, dan rock bisa menularkan itu,” ungkapnya.
Fery juga memaparkan bahwa Karangploso terdiri dari sembilan desa dan masing-masing diwakili dalam acara ini, termasuk komunitas Long Hair, Koboiningrat, dan Songaden.
“Dulu kita memang keliling dari desa ke desa. Sekarang kita kumpulkan semua komunitas untuk silaturahmi dan saling menguatkan,” katanya.
Pengisi acara Sam Wijo optimistis Malang bisa kembali menjadi barometer rock Indonesia. “Mengembalikan marwah Malang sebagai barometer rock Indonesia insyaallah akan tercapai. Bahkan adik-adik kita yang masih SMP sudah tampil di sini. Ini bukti regenerasi berjalan,” ungkapnya.
Vokalis Power Slave, Heydi Ibrahim, mengaku senang tampil di Malang. “Saya senang saja diundang, apalagi penontonnya ramai. Musik itu seperti mode, ada naik dan turun. Suatu saat musik rock pasti naik lagi,” katanya.
Terkait isu royalti, Heydi memilih santai. “Kalau lagu Power Slave dibawakan orang, saya senang. Royalti itu benar, tapi di Indonesia sistemnya harus disesuaikan. Kalau mau bayar royalti lagu asing, harusnya lagu barat juga dibayar. Jadi, bawa santai saja,” jelasnya.
Heydi juga menegaskan tidak ada cara instan untuk mengembalikan tren rock. “Saya tidak mau memaksakan. Musik akan naik turun dengan sendirinya,” ucapnya.
Lady Rocker legendaris, Mel Shandy, datang secara mendadak dari Surabaya hanya tiga hari setelah menerima undangan. Meski tanpa persiapan panjang, ia membawakan lagu-lagu hitsnya dan memperkenalkan album baru berjudul Intuisi dengan single Seribu Tanya.
“Harapan saya musik rock makin berkibar. Saya membebaskan siapa pun membawakan lagu ciptaan suami saya tanpa tuntutan apa pun. Justru saya senang karya diapresiasi,” ujarnya.
Mel menambahkan, tampil di Malang selalu spesial baginya. “Dulu orang bilang kalau belum tampil di Malang dan Surabaya belum bisa disebut rocker. Malang punya energi yang luar biasa,” katanya.
Dengan dukungan komunitas seperti Long Hair Community, KRC, dan penggemar rock dari berbagai daerah, “Kita Indonesia Rock in Karlos 2025” menjadi momentum kebangkitan musik rock Malang.
Selain merayakan HUT ke-80 RRI, acara ini menjadi ajang silaturahmi komunitas musik.“Kami sekaligus menghidupkan kembali semangat rock sebagai simbol keberanian, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tanah air,” kata Mahdi yang juga dijuluki Lurah Rocker, menutup. (dan/ian)






