Surabaya (beritajatim.com) – Sebuah kisah menyentuh hati tentang waluh kukus (labu kuning kukus) kembali viral di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), setelah dibagikan oleh seorang warganet dengan akun @ainayed.
Kisah ini pertama kali diunggah pada Juli 2021, dan hingga kini masih membekas di benak banyak pengguna internet karena menyentuh sisi kemanusiaan dan menggugah emosi — antara haru, sedih, dan juga amarah.
Cerita ini bermula dari pengalaman masa kecil sang pemilik akun yang tumbuh di keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Sang ayah menghilang entah ke mana, sementara ibunya bekerja serabutan sebagai buruh yang tak menentu.
“Upahnya macam-macam, tergantung pekerjaannya. Seringnya dibayar uang, tapi kadang-kadang dapat bahan makanan. Nah suatu ketika, makku bantuin orang panen waluh (alias labu kuning). Sebagai upah, mak dikasih dua waluh, satunya kecil, satunya besar,” ujarnya.
Namun, waluh tersebut tidak bisa langsung dikonsumsi karena masih mentah. Setelah menunggu sekitar dua bulan hingga matang, sang ibu dengan penuh rasa syukur memutuskan untuk mengolah waluh itu sebagai hidangan untuk anak-anak yang sedang tadarus di langgar (musala kecil).
Namun, karena keterbatasan bahan dan biaya, waluh itu pun hanya dikukus tanpa tambahan bahan lainnya.
“Makku bilang, Alhamdulillah bisa nyumbang takjil buat orang ngaji. Sedih, ndak pernah ngasih apa-apa sebelumnya,” kenang @ainayed dalam unggahannya.
Sayangnya, niat baik sang ibu justru tidak sesuai harapan. Dari belasan anak yang datang tadarus, hampir tak ada yang menyentuh waluh kukus tersebut. Bahkan yang paling menyakitkan, seorang anak bernama Yati menghina makanan tersebut.
“Dia yang paling besar, kelas 6, lihat-lihat takjil. Pas sampai di ember waluh kukus makku, dia cuma nyeker-nyeker pake ujung jari kayak orang jijik. Sambil ngomong, ‘Hii panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong?’ (Hi, makanan apaan nih? Masak bentuk kek tai gini dikasih ke orang?),” ujarnya dalam unggahan itu.
Hal tersebut lantas memicu kemarahan pemilik cerita yang saat itu masih duduk di kelas 4 SD. Ia membela makanan pemberian ibunya, namun justru ditertawakan oleh Yati dan teman-teman lainnya. Bahkan ia juga dianggap mudah terbawa perasaan atau baper.
Sejak itu pun nama Yati menjadi perbincangan di kalangan warganet sebagai simbol ketidaksensitifan dan tidak menghargai jerih payah orang lain.
“Waluhnya gimana? Hampir utuh seember sampai pulang tadarus jam 9an malam. Akhirnya kubawa pulang lagi. Tapi terus aku ingat makku, yang nahan nggak masak waluh itu sampe 2 bulan demi bisa nyumbang takjil. Ingat makku yang pede waluhnya bakal habis,” katanya.
Hingga kemudian, saat perutnya sudah benar-benar tidak bisa menampung dan waluh kukus sudah berkurang setengahnya, ia pun memilih untuk pulang, dengan melewati jalanan yang cukup gelap, kakinya pun tidak sengaja tersandung. Membuat sisa waluh kukus terjatuh dan berantakan.
“Waluh sisanya ambyar jatuh ke tanah. Jadi aku meraba-raba waluh di sekitar situ terus kulempar ke peceren (selokan) buat menghilangkan jejak. Sambil nangis tentunya! Sambil nangis itu terus muntah-muntah. Muntahin waluh kukus yang kupaksa masuk perut tadi,” ungkapnya.
Kisah waluh kukus ini pun kemudian banyak mengundang simpati warganet. Bahkan, setiap melihat waluh kukus, banyak dari warganet yang teringat akan kisah tersebut, bahkan dengan sosok Yati yang dinilai sangat keterlaluan dan menyebalkan. Bahkan, cerita tentang Yati Waluh Kukus ini dinilai cukup legendaris di Twitter.
“Kalo ada waluh kukus, ke inget ceritanya Yati 🤧,” ujar salah satu warganet. (fyi/ted)






